Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Gelar Protes di London, Walhi Tuntut Tanggung Jawab Kerusakan Habitat Orangutan Tapanuli

Hutan Batang Toru juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat adat yang selama ratusan tahun hidup berdampingan dengan alam

Aksi protes Walhi Sumut di depan kantor Jardine Cycle dan Carriage Limited di London, Inggris. (Foto: istimewa)
Aksi protes Walhi Sumut di depan kantor Jardine Cycle dan Carriage Limited di London, Inggris. (Foto: istimewa)
A A

, MEDAN - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia () Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi protes terkait kerusakan habitat Tapanuli di depan kantor Jardine Cycle dan Carriage Limited di London, Inggris.

Protes itu digelar sebagai bentuk desakan kepada Jardine Matheson, induk perusahaan PT Agincourt Resources yang mengoperasikan di Sumut, agar bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di ekosistem Batang Toru, Sumut.

Diketahui, Batang Toru merupakan rumah bagi Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies orangutan paling terancam punah di dunia. Dengan populasi yang tersisa kurang dari 800 individu, orangutan ini kini berada di ambang kepunahan.

Terisolasi di hutan- yang mencakup wilayah Tapanuli Utara, Tengah, dan Selatan, keberadaan mereka semakin terdesak akibat proyek-proyek besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dan tambang emas Martabe yang memperparah deforestasi di wilayah tersebut.

Direktur Sumut, Rianda Purba, mengatakan, aksi yang berlangsung di London itu, menegaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh /tag/tambang-emas-martabe" class="article-tag-link" rel="tag">tambang emas Martabe telah menghilangkan lebih dari 114 hektar hutan dalam 15 tahun terakhir.

“Ini bukan hanya tentang kehilangan habitat liar. Hutan Batang Toru juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat adat yang selama ratusan tahun hidup berdampingan dengan alam,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (22/9/2024).

Selain mengancam keberadaan Orangutan Tapanuli, diakatakannua, aktivitas tambang juga merusak daerah aliran sungai (DAS) yang merupakan sumber air utama bagi 100.000 warga di hilir.

“Jardine Matheson harus bertanggung jawab atas kerusakan ekosistem ini. Bukan hanya flora dan fauna yang terdampak, tetapi juga hak-hak dasar masyarakat lokal untuk air bersih dan lingkungan sehat,” ujarnya.

Selanjutnya, aksi itu juga mendapat dukungan dari Friends of the Earth United Kingdom, yang menyerukan agar publik lebih peduli terhadap dampak industri yang merusak lingkungan.

Perwakilan Friends of the Earth UK, Nick Rau menyampaikan aksi tersebut merupakan upaya pihaknya untuk menyampaikan pesan terkait dampak buruk terkait bisnis yang dilakukan Jardine Matheson di Indonesia khususnya di Sumatera.

"Kami ingin dunia tahu bahwa bisnis yang dilakukan Jardine Matheson di Indonesia mengancam salah satu hutan terakhir yang tersisa di Sumatera, dan ini berdampak langsung pada masa depan keanekaragaman hayati dunia," ujarnya, mengutip Rianda.

Dalam tuntutannya, Walhi meminta Jardine Matheson untuk segera menghentikan eksplorasi dan eksploitasi di habitat Orangutan Tapanuli, serta menerapkan kebijakan tanpa deforestasi yang tegas. Mereka juga mendesak agar perusahaan menghormati hak masyarakat adat dan bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang telah terjadi.

"Protes di London ini menjadi suara global untuk memperjuangkan kelestarian dan habitat Orangutan Tapanuli, sekaligus menjadi panggilan bagi perusahaan multinasional untuk lebih peduli terhadap dampak lingkungannya," tutupnya.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait