Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Bitcoin Tergelincir di Bawah $80.000 Akibat Lonjakan Data Kerja yang Picu Ekspektasi Suku Bunga

Bitcoin merosot di bawah $80.000 akibat lonjakan data kerja AS yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed

Ilustrasi Bitcoin. (Foto: dok Istockphoto)
Ilustrasi Bitcoin. (Foto: dok Istockphoto)
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Harga kembali merosot di bawah US80.000 (sekitar Rp1.41 miliar) pada perdagangan akhir pekan ini.

Tekanan jual terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi kenaikan oleh Federal Reserve (), sementara grafik teknikal menunjukkan reli harga sebelumnya telah membentur batas resistance kuat di dekat US82.500.

Berdasarkan data crypto.news, mata uang utama (BTC) ini diperdagangkan di kisaran US79.600, turun sekitar 1,5% dalam 24 jam terakhir. Aset ini sempat mencatatkan level tertinggi harian di US81.370 sebelum akhirnya terdorong turun hingga menyentuh US$78.723.

Pembalikan arah (pullback) ini menghentikan tren pemulihan tajam dari level terendah Agustus di kisaran US62.500, di mana sempat melesat hingga 30%.

Namun, zona US82.000–US$82.800 terbukti menjadi tembok penghalang yang kokoh setelah dua kali menggagalkan upaya perpanjangan reli.

Data Ketenagakerjaan AS Jadi Pemicu Utama

Tekanan terhadap bermula dari laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (US Bureau of Labor Statistics) yang mencatat penambahan lapangan kerja nonfarm payrolls sebesar 162.000 pada Agustus jauh melampaui rata-rata bulanan 16.000–31.000 dalam setahun terakhir. Sementara itu, tingkat pengangguran tertahan di angka 4,1%.

Data tenaga kerja yang solid ini langsung mengubah sentimen pasar. Berdasarkan data Reuters, probabilitas kenaikan pada pertemuan 15–16 September melonjak menjadi 61%, dari sebelumnya 52%.

Sebagai dampak lanjutan, Citigroup merevisi perkiraan pemotongan suku bunga The Fed berikutnya dari Oktober 2026 menjadi Juni 2027.

Lonjakan ekspektasi suku bunga ini turut mendongkrak imbal hasil (yield) US Treasury dan memperkuat posisi dolar AS, yang pada akhirnya menekan aset-aset berisiko dan tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding), termasuk .

Analis , Rain, menilai laporan pekerjaan tersebut merupakan katalis langsung penurunan Bitcoin, kendati secara teknikal tanda-tanda pelemahan sudah terlihat sebelumnya.

"BTC telah ditolak di sekitar US$82.400 beberapa jam sebelum data dirilis," ujarnya, seperti dikutip dari laman coinmarketcap news, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Rain, data tersebut memaksa pasar untuk memperhitungkan ulang kebijakan pengetatan moneter, tanpa mengubah prospek investasi jangka panjang Bitcoin.

(*/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait