Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

19 Desa Masih Terisolir, Tapteng Butuh Alat Berat dan Air Bersih

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kondisi terkini Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, usai diterjang banjir dan longsor, Senin (8/12/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, TAPANULI TENGAH – Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, mengungkapkan hingga kini masih terdapat 19 desa dan satu kecamatan yang terisolir akibat banjir dan longsor besar yang melanda sejak 25 November 2025. Kondisi tersebut membuat Pemkab memperpanjang masa tanggap darurat selama 14 hari ke depan.

Adapun desa-desa yang belum dapat diakses yakni Simarpinggan, Panggaringan, Sialogo, Parjalihotan Baru, Muara Sibuntuon, Bonan Dolok, Mardame, Naga Timbul, Rampa, Simaninggir, Nauli, Bair, Aloban, Mela Dolok, Tapian Nauli Saur Manggita, Sigiring-giring, Sait Nihuta Kalangan B, Hutanabolon, dan Sipange.

Masinton menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat berat untuk membuka akses dan menormalisasi sungai yang tertutup material kayu serta lumpur akibat banjir bandang.

Baca Juga : Pendeta Alfius Wau Salurkan Bantuan untuk 30 KK Korban Banjir di Aek Korsik Tapteng

“Kami butuh alat berat, eskavator, beko, beko loader lengkap dengan penjepit kayu untuk membuka akses dan menurunkan debit air,” kata Masinton.

Menurutnya, tujuh aliran sungai di Tapteng kini dipenuhi gelondongan kayu dan sedimen. Akibat penyumbatan tersebut, aliran air meluap keluar dari jalur sungai hingga menggenangi rumah-rumah warga.

“Air sudah tidak lagi mengalir di alurnya. Sungai bergeser ke jalan dan permukiman. Itu sebabnya masyarakat tidak bisa pulang ke rumah karena air terus masuk,” jelasnya.

Baca Juga : Belajar di Tenda Darurat, Siswa Korban Banjir Tapteng Dibebaskan dari Pekerjaan Rumah

Masinton memperkirakan kayu yang menumpuk telah mencapai ratusan ribu kubik. Berdasarkan tinjauannya selama sembilan bulan menjabat, banyak perbukitan di Tapteng berubah menjadi kebun sawit, sementara hutan dibabat hingga meninggalkan tumpukan batang kayu.

“Saya cek langsung ke bukit-bukit. Banyak yang dikeruk, hutan dipotong pakai senso lalu ditanami sawit. Data BPS juga mencatat deforestasi Tapteng melonjak dari sekitar 16 ribu hektar pada 2023 menjadi lebih dari 40.800 hektar pada 2024,” ungkapnya.

Selain akses dan sungai, persoalan air bersih menjadi masalah besar. Seluruh jaringan instalasi air bersih rusak total, mulai dari pipa hulu hingga sambungan rumah warga. Saat ini, warga hanya mengandalkan pasokan air tangki yang jumlahnya sangat terbatas.

Baca Juga : 58 Hari Pascabencana, PDI Perjuangan Laksanakan Perayaan Natal di Hutanabolon Tapteng

“Di beberapa titik pengungsian, warga mulai muncul bintil-bintil seperti cacar di tubuh, akibat buruknya sanitasi dan minimnya air bersih,” kata Masinton.

Untuk jangka pendek, Pemkab Tapteng menyiapkan lahan aman dari risiko banjir dan longsor untuk pembangunan hunian sementara. Masinton berharap pemerintah pusat membantu proses pembangunan.

“Tugas kami menyiapkan lahannya. Selanjutnya, kami berharap pemerintah pusat membantu membangun hunian sementaranya,” tutupnya.

(Dra/nusantaraterkini.co)