nusantaraterkini.co, MEDAN - PT Pertamina International Shipping (PIS) melakukan konservasi hiu paus di Whale Shark Center Kwatisore, Nabire, Papua.
Dalam kegiatan ini, PIS bekerja sama dengan Pertamina Foundation (PF) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk tagging hiu paus.
Tagging ini dilakukan untuk mendeteksi hiu paus yang ada di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC), Nabire.
Baca Juga : PIS Dinilai jadi Penggerak Industri Maritim Indonesia
Kegiatan ini merupakan implementasi MoU yang diteken PIS bersama PF, dan Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDEA) KLHK pada Agustus 2023 lalu.
Sekretaris Perusahaan PIS, Muh. Aryomekka Firdaus mengatakan, sebetulnya program tagging hiu paus ini sudah dilakukan KLHK 2 tahun lalu.
PIS sendiri memiliki 3 terminal BBM di Papua yang berlokasi di Nabire, Seruni, dan Manokwari. Terhitung, setiap harinya ada sekitar 10-11 kapal yang lalu lalang di sekitaran perairan tersebut.
Pihaknya juga menyebut, sebelum PIS masuk ke dalam program ini, tagging hiu paus hanya dilakukan 1-2 kali dalam setahun. Tapi sekarang, kegiatan tagging sudah bisa dilakukan setiap hari.
Saat ini tercatat, sudah ada 203 ekor hiu paus di Teluk Cendrawasih. Jumlah tersebut bertambah dari data TNTC yang sebelumnya hanya 190-an ekor saja.
Dirinya juga menyatakan, PIS hadir melalui program CSR bersama Pertamina Foundation untuk lebih aktif dalam tagging hiu paus ini. Bahkan, Pertamina memanggil researcher dari Desert Star System LLC, California, Amerika Serikat (AS) untuk membuat alat tagging tersebut.
Saat ini, kedua cara tersebut sudah tidak direkomendasi lagi, sehingga alat tagging yang dikembangkan sekarang menggunakan desain braket SeaTag-MOD, bergaya penjepit yang dapat dilepas pasang untuk memudahkan pemasangan cepat pada sirip punggung hiu paus.
Alat tagging tersebut tersambung dengan satelit dan software untuk mengetahui pergerakan hiu paus secara langsung.
“Bersama dengan TNTC, saya membuat terobosan baru dari berbagai riset yang saya lakukan tentunya dengan gaya lokal (Papua) untuk membangun alat tagging tersebut,” kata Marco.
Adapun hingga saat ini, alat tagging tersebut masih terus dikembangkan agar lebih efektif.
Saat ini dukungan Pertamina bisa dilakukan setiap bulan guna mendapatkan data dan tren dari hiu paus yang lebih akurat. Sebab, hiu paus sudah dianggap sebagai nenek moyang bagi warga di Teluk Cendrawasih, Nabire.
“Untuk itu PIS sebagai perusahaan di bidang kelautan, merasa terpanggil untuk melestarikan hiu paus di sini,” tutur Aryomekka.
