Nusantaraterkini.co, Medan – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak mixed pada perdagangan hari ini, Kamis (10/10/24), setelah mengalami pelemahan 0,74% di sesi sebelumnya, menutup pada level 7.501,28.
Tekanan jual yang kuat dari investor asing dengan net sell sebesar Rp 560,45 miliar menjadi salah satu faktor utama pelemahan IHSG, terutama pada saham-saham unggulan seperti BBRI, BMRI, ASII, dan BRIS.
Baca Juga : IHSG Melejit 1% ke 8.334, Sektor Basic Pimpin Penguatan – Intip Rekomendasi Saham Hari Ini
Menurut William Hartanto, pendiri WH Project yang berbicara melalui kanal YouTube Siaran Bursa Com, IHSG saat ini berada dalam fase rotasi sektor, di mana saham-saham big caps yang sebelumnya mendominasi kini mulai tertekan. Di sisi lain, saham-saham lapis kedua (2nd liner) memperlihatkan peluang untuk menguat.
Baca Juga : IHSG Berpeluang Tembus 10.500 pada Akhir 2026, Ini Sektor yang Jadi Motor Penggerak
“IHSG sedang berada dalam fase rotasi sektor. Saham-saham big caps melemah, sementara saham lapis kedua berpotensi menguat. Meski ada sentimen dari pelantikan presiden dan window dressing menjelang akhir tahun, keduanya belum cukup kuat mendorong IHSG secara signifikan. Saat ini IHSG masih bertahan di atas level support 7.500, yang memberikan peluang untuk pengujian ulang sebelum terjadi rebound,” jelas William.
Ia juga merekomendasikan saham-saham seperti TAPG dan INCO, yang menunjukkan sinyal bullish. TAPG berada di level support 825 dengan resistance di 895, sementara INCO berpotensi rebound dengan support di 4.080 dan resistance di 4.300. Namun, untuk saham seperti UNTR dan DOID, ia menyarankan investor untuk bersikap lebih berhati-hati.
Baca Juga : Viral MBG Tercemar Ada Cacing dan Ulat, SMKN 1 Sei Rempah Desak Evaluasi SPPG
Tekanan eksternal juga turut membebani IHSG. Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi, menyoroti pengaruh kebijakan moneter The Fed yang cenderung dovish namun belum memberikan dampak positif yang signifikan bagi pasar saham Indonesia. Selain itu, kekhawatiran terkait kondisi ekonomi China juga memperberat sentimen negatif.
Baca Juga : Ditinggal Beli Takjil, Sepeda Motor Penjaga Toko Lenyap Digasak Maling
“Faktor eksternal, terutama dari China dan kebijakan moneter AS, masih menjadi ancaman terbesar bagi IHSG. Meskipun Rupiah menguat ke level 16.615 per USD, tekanan dari global tetap dominan,” ujar Gunawan kepada Nusantara Terkini melalui WhatsApp, Kamis (10/10/24).
Gunawan menambahkan bahwa ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga AS juga mulai melemahkan harga emas, yang turun ke level $2.616 per ons troy atau sekitar Rp 1,32 juta per gram.
Penguatan Rupiah sedikit berkontribusi pada pelemahan harga emas domestik.
Dengan beragam sentimen ini, IHSG diprediksi akan bergerak dalam rentang 7.430 hingga 7.550.
Para investor disarankan untuk tetap waspada, terutama terhadap sinyal teknikal yang menunjukkan adanya potensi tren penurunan lebih lanjut.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
