Krisis Pangan Membayang Akibat Konflik Global, DPR Ingatkan Pemerintah Tak Cukup Hanya Swasembada
Dwan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia ingatkan pemerintah, swasembada tak cukup hadapi krisis pangan global tanpa distribusi yang kuat dan interve
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI, Hindun Anisah, memperingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan capaian swasembada pangan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Menurutnya, tanpa manajemen distribusi yang kuat, melimpahnya stok pangan nasional tidak akan mampu membendung hantaman inflasi global yang mulai mengancam stabilitas harga di tingkat masyarakat bawah.
“Pemerintah harus segera bertindak. Konflik Timur Tengah sudah mulai memicu kenaikan harga pangan global. Kalau distribusi tidak dijaga, dampaknya langsung ke masyarakat bawah,” tegas Hindun, Rabu (1/4/2026).
Hindun menilai, persoalan pangan dalam situasi krisis global saat ini bergeser dari masalah produksi ke kerawanan distribusi. Tingginya biaya logistik Indonesia yang mencapai 14 persen dari harga produk menjadi titik lemah yang bisa memicu lonjakan harga seketika jika terjadi gangguan energi atau jalur perdagangan internasional.
“Ini persoalan serius. Begitu distribusi terganggu, harga langsung melonjak. Pemerintah tidak boleh meremehkan dampak berantai ini,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai capaian swasembada beras 2025 seharusnya menjadi modal kuat untuk menghadapi tekanan global. Namun, tanpa pengelolaan distribusi yang efektif, keberhasilan produksi dalam negeri bisa kehilangan makna.
“Swasembada bukan jaminan jika distribusi tidak terkendali. Pemerintah harus memastikan hasil produksi benar-benar sampai ke masyarakat dengan harga terjangkau,” kritiknya.
Pemanfaatan Cadangan Beras
Hindun juga menyoroti besarnya Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang kini mencapai 4,3 juta ton sebagai peluang sekaligus ujian bagi pemerintah. Menurutnya, stok besar tersebut hanya akan efektif jika digunakan secara tepat sasaran dan cepat dalam merespons gejolak pasar.
“Stok melimpah itu tidak boleh hanya jadi angka. Harus digunakan untuk intervensi pasar secara agresif, terutama di daerah yang mulai terdampak,” katanya.
Ia menegaskan, kemandirian pangan bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan strategis di tengah ketidakpastian global. Tanpa langkah konkret dan cepat, pemerintah dinilai berisiko membiarkan masyarakat menanggung dampak krisis yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
“Kalau pemerintah lambat, rakyat yang akan menanggung mahalnya harga pangan. Ini soal keberpihakan,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELSinergi Polri dan Pers, Kapolda Sumsel Ajak Jurnalis Jaga Kondusifitas Wilayah
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SUMSELTinjau Karhutla di OKI, Kapolda Sumsel Tekankan Keselamatan Tim Satgas Lapangan
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
KRIMINALPerluas Penyidikan, Polda Sumsel Tambah 4 Perusahaan Baru dalam Kasus Karhutla
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
SUMSELKapolda Sumsel Tegaskan Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Tebang Pilih
Rozie Winata·5 jam yang lalu -
KRIMINALPolda Sumut Tangkap 6 Orang Terkait Penembakan Wadan Koti Pemuda Pancasila Deliserdang
Rozie Winata·5 jam yang lalu -
KRIMINALGeger! Pria Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Klinik Kenten Palembang
Rozie Winata·5 jam yang lalu -
SUMUTPemkab Deliserdang, BBWS dan LPM Matangkan Rencana Pemanfaatan Lahan Lau Simeme
Rozie Winata·6 jam yang lalu -
NASIONALPrabowo Perintahkan Kepolisian hingga Intelijen Usut Tuntas Karhutla: Sikat Pelaku Tanpa Kompromi!
Rozie Winata·6 jam yang lalu -
KRIMINALIjazah Tertahan, Mahasiswa S2 Darma Agung Laporkan Yayasan ke Polda Sumut
Rozie Winata·7 jam yang lalu -
KOTA MEDANWujudkan Rumah Impian Pekerja, BPJS Ketenagakerjaan Kampanyekan MLT Perumahan dengan Pembiayaan Terjangkau
7 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan