Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Iran-AS Kembali Memanas! Dua Rudal Hantam Pulau Qeshm, Trump Akui Serangan Terbatas

Dua rudal dilaporkan menghantam Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Trump akui serangan terbatas AS, sementara Iran mengklaim militernya makin kuat.

Bagikan:
Selat Hormuz Masih Ditutup, Harga Minyak Dunia Naik 11 Persen dalam Sepekan. (Foto: istimewa)
Selat Hormuz Masih Ditutup, Harga Minyak Dunia Naik 11 Persen dalam Sepekan. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co,ย JAKARTA โ€“ Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah dua rudal dilaporkan menghantam Pulau Qeshm, kawasan strategis di Selat Hormuz, Sabtu (7/11/2026).

Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ancaman konflik militer antara kedua negara. Presiden AS Donald Trump mengakui militernya telah melancarkan serangan terbatas terhadap sistem pertahanan udara Iran. Sementara itu, Teheran memperingatkan bahwa kekuatan militernya kini lebih siap menghadapi konfrontasi dibandingkan saat perang dimulai pada akhir Februari 2026.

Laporan serangan di Pulau Qeshm pertama kali disampaikan kantor berita Iran, Tasnim. Informasi tersebut menyebutkan sedikitnya dua rudal menghantam pulau terbesar di Selat Hormuz tersebut.

Dua Rudal Dilaporkan Menghantam Pulau Qeshm

Televisi pemerintah Iran melaporkan terdengar dua ledakan di Pulau Qeshm. Secara terpisah, kantor berita pemerintah IRNA menyebut dua proyektil menghantam wilayah Suza setelah sejumlah saksi mendengar suara pesawat melintas di atas pulau.

Namun, hingga laporan awal tersebut disampaikan, otoritas Iran belum memberikan keterangan resmi mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan korban akibat insiden itu.

Sebelum ledakan dilaporkan terjadi, militer Iran mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah drone milik AS yang terbang di atas Pulau Qeshm.

Pulau Qeshm memiliki posisi strategis karena berada di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.

Trump Akui AS Lancarkan Serangan Terbatas

Presiden Donald Trump tidak secara langsung mengonfirmasi bahwa Washington bertanggung jawab atas dua rudal yang dilaporkan menghantam Pulau Qeshm. Namun, ia mengakui militer AS telah melakukan serangan terbatas terhadap fasilitas pertahanan Iran.

"Saya tidak ingin membahasnya. Kita memang melakukan serangan-serangan kecil," ujar Trump saat ditanya wartawan mengenai operasi militer tersebut.

Trump juga mengklaim pasukan AS berhasil melumpuhkan perangkat pertahanan udara Iran dalam waktu singkat.

"Mereka membangun semacam perangkat antipesawat. Dan kita melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit," katanya.

Dalam laporan terpisah, Trump kemudian mengonfirmasi serangan militer AS terhadap sistem pertahanan udara Iran di sekitar Pulau Qeshm. Washington menyebut operasi tersebut sebagai serangan terbatas, bukan dimulainya kembali operasi perang berskala besar.

Sebelumnya, serangan terhadap Pulau Qeshm juga dilaporkan terjadi pada Senin (2/11/2026). Seorang pejabat AS saat itu menyebut operasi tersebut sebagai tindakan defensif untuk menghadapi ancaman terhadap aset militer Washington di kawasan Selat Hormuz.

Iran Klaim Kekuatan Militer Semakin Besar

Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan Israel. Teheran mengklaim kemampuan tempur pasukannya kini jauh lebih kuat dibandingkan ketika konflik pecah pada akhir Februari 2026.

Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan, pengalaman menghadapi langsung pasukan AS dan Israel membuat militernya semakin siap menghadapi kemungkinan serangan berikutnya.

"Saat ini, Angkatan Bersenjata Republik Islam (Iran) telah mendapatkan pengalaman dari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan rezim Israel, berada dalam tingkat kesiagaan yang lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan saat awal perang," kata Akraminia dalam pernyataan yang dikutip IRNA, Sabtu (7/11/2026).

Akraminia juga menegaskan Iran masih memegang kendali atas Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Teheran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan Iran.

"Atas perintah Pemimpin Tertinggi, respons Angkatan Bersenjata akan bersifat segera, efektif, dan tanpa batasan geografis," tegasnya.

Trump Kembali Beri Ancaman kepada Iran

Sebelum serangan terbaru dilaporkan, Trump telah mengisyaratkan kemungkinan melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Ia bahkan memperingatkan bahwa keputusan terkait langkah Washington berikutnya akan segera diumumkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (5/11/2026) waktu setempat. Ia mengklaim Iran telah mengalami kehancuran besar dan membutuhkan waktu lebih dari dua dekade untuk membangun kembali negaranya.

"Saya sebenarnya tidak ingin menghancurkan sisa-sisa negara tersebut jika memungkinkan, tetapi mungkin saya harus melakukannya. Dan Anda akan segera mengetahuinya," ujar Trump.

Pernyataan itu muncul setelah Trump menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan nasionalnya. Meski melontarkan ancaman, ia menyebut pemerintahannya masih menjalin komunikasi dengan perwakilan Iran.

AS Minta Warganya Waspada di Timur Tengah

Meningkatnya ketegangan turut mendorong Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga negaranya yang berada di kawasan Timur Tengah.

Imbauan yang dirilis pada Jumat (6/11/2026) waktu setempat itu meminta warga AS meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan bersenjata, termasuk ancaman dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran.

Washington juga menyoroti kemungkinan adanya upaya Iran menargetkan pejabat dan personel pemerintah AS di kawasan tersebut.

"Warga Amerika yang saat ini berada di Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan karena adanya peningkatan ancaman serangan bersenjata oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, dan upaya-upaya Iran untuk menargetkan pejabat pemerintah AS di kawasan tersebut," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS melalui media sosial X.

Selain ancaman keamanan, pemerintah AS mengingatkan kemungkinan terganggunya aktivitas penerbangan dan perjalanan di kawasan Timur Tengah. Pembatalan penerbangan hingga penutupan wilayah udara juga menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

Situasi tersebut memperlihatkan ketegangan Washington dan Teheran masih jauh dari kata mereda. Ancaman serangan lanjutan, klaim kesiapan militer Iran, serta perkembangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dalam konflik kedua negara.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait