Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Harga Minyak Mentah Melonjak Dan Diperkirakan Mencatat Kenaikan Selama Tiga Minggu Berturut-turut

harga minyak mentah melonjak dan diperkirakan mencatat kenaikan selama tiga minggu berturut-turut.

Bagikan:
harga minyak mentah Brent naik US$2,50 atau 3,3% menjadi US$79,42 per barel pada 1248 GMT, mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.(sumber foto: reuters))
harga minyak mentah Brent naik US$2,50 atau 3,3% menjadi US$79,42 per barel pada 1248 GMT, mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.(sumber foto: reuters))
A A

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (10/1/2025) harga minyak mentah melonjak dan diperkirakan mencatat kenaikan selama tiga minggu berturut-turut.

Hal ini, dikarena para pedagang memusatkan perhatian pada potensi gangguan pasokan akibat sanksi baru terhadap Rusia.

BACA: Harga Minyak Mentah Melemah di Tengah Penguatan Dolar Amerika Serikat

Berdasarkan data yang dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$2,50 atau 3,3% menjadi US$79,42 per barel pada 1248 GMT, mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.

Sedangkan, harga minyak mentah (WTI) meningkat US$2,39 atau 3,2% menjadi US$76,31 per barel.

Amerika Serikat dilaporkan akan menerapkan beberapa sanksi terberat terhadap industri minyak Rusia hingga saat ini, mencakup 180 kapal.

BACA: Harga Minyak Mentah Melanjutkan Penguatan di Hari Perdagangan Kelima Berturut-turut

Puluhan pedagang, dua perusahaan minyak besar, dan sejumlah eksekutif terkemuka Rusia, menurut sebuah dokumen yang dilihat oleh Reuters.

Dokumen tersebut, yang diklaim berasal dari Departemen Keuangan AS, beredar di kalangan pedagang di Eropa dan Asia. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi keaslian dokumen tersebut.

Menjelang pelantikan Presiden terpilih AS Donald Trump pada 20 Januari, ekspektasi bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden akan memperketat sanksi terhadap Rusia dan Iran semakin meningkat, terutama ketika stok minyak global tetap rendah.

BACA: Harga Minyak Mentah Menguat 0,28% ke Level US$ 71,92 Per Barel di Awal Perdagangan Tahun 2025

"Ini mungkin menjadi hadiah perpisahan dari pemerintahan Biden," kata analis PVM, Tamas Varga.

Sanksi yang ada dan kemungkinan sanksi tambahan, bersama dengan ekspektasi pasar terhadap penurunan stok bahan bakar karena cuaca dingin, mendorong harga lebih tinggi, tambahnya.

BACA: Harga Minyak Mentah Naik Tipis Dalam Perdagangan Akhir Tahun yang Sepi

Badan cuaca AS memperkirakan suhu di bagian tengah dan timur negara itu akan berada di bawah rata-rata.

Banyak wilayah di Eropa juga dilanda cuaca dingin ekstrem dan diperkirakan akan terus mengalami suhu yang lebih dingin dari biasanya di awal tahun.

"Kami memperkirakan peningkatan permintaan minyak global sebesar 1,6 juta barel per hari pada kuartal pertama 2025, terutama didorong oleh permintaan untuk minyak pemanas, minyak tanah, dan LPG," kata analis JPMorgan dalam sebuah catatan pada Jumat.

BACA: Harga Minyak Turun Mentah Tipis Meski Masih Bertahan di Atas Level US$ 70 Per Barel Jelang Malam Tahun Baru

Premi pada kontrak bulan depan Brent dibandingkan kontrak enam bulan mencapai level terluas sejak Agustus minggu ini, yang berpotensi mengindikasikan ketatnya pasokan di tengah meningkatnya permintaan.

Kekhawatiran inflasi juga turut mendukung kenaikan harga minyak, kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.

Investor khawatir rencana tarif yang diajukan Trump dapat mendorong inflasi lebih tinggi.

Salah satu cara populer untuk melindungi diri dari kenaikan harga konsumen adalah dengan membeli futures minyak.

Harga minyak terus menguat meskipun dolar AS menguat selama enam minggu berturut-turut, yang membuat minyak mentah menjadi lebih mahal di luar AS.

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru