Nusantaraterkini.co, MEDAN – Pendidikan di Sumatera Utara dihadapkan pada tantangan besar, mulai dari tingginya angka putus sekolah hingga rendahnya literasi dan numerasi di wilayah tertentu.
Untuk mengatasi hal ini, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sumut, di bawah kepemimpinan Tajuddin Idris, mengusung enam program prioritas nasional yang dirancang oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk tahun 2025.
"Kami berkomitmen menjalankan program-program strategis ini untuk memastikan pendidikan di Sumut mampu menjawab tantangan zaman. Anak-anak kita harus memiliki karakter, kompetensi, dan kesempatan belajar yang setara," ujar Tajuddin Idris dalam diskusi terbaru mengenai roadmap pendidikan Sumut.
Baca Juga : Festival Kurikulum Merdeka Sumut Tampilkan Produk Karya Guru dan Siswa
Salah satu tantangan terbesar adalah menangani sekitar 250.000 anak yang masih masuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS). Dari jumlah tersebut, lebih dari 160.000 berada di jenjang SMP ke bawah. BPMP akan melakukan verifikasi data secara mendalam, memastikan identitas mereka melalui pendekatan by name, by address, dan memfasilitasi mereka kembali ke bangku pendidikan.
"Kami ingin wajib belajar 13 tahun benar-benar terealisasi. Ini tidak hanya soal pendidikan formal, tapi bagaimana memberikan harapan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak Sumut," tegas Tajuddin.
Rendahnya tingkat literasi dan numerasi di beberapa wilayah, terutama di pesisir barat Samudra Hindia dan pesisir timur Selat Malaka, menjadi perhatian khusus. Berdasarkan data BPMP, daerah ini tertinggal dibandingkan kawasan tengah seperti Samosir yang memiliki tingkat literasi lebih tinggi.
"Kami melihat literasi dan numerasi sebagai fondasi pendidikan unggul. Wilayah yang tertinggal akan menjadi prioritas kami untuk digenjot," ungkap Tajuddin.
Peningkatan kompetensi guru juga menjadi prioritas dalam mewujudkan mutu pendidikan. BPMP Sumut, bersama Balai Besar Guru Penggerak (BBGP), akan memastikan guru-guru mendapatkan pelatihan yang relevan untuk menghadapi tantangan pendidikan modern.
Sementara itu, pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan menjadi perhatian utama, terutama di daerah-daerah terpencil. BPMP akan bersinergi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk memastikan sekolah-sekolah, baik di kota maupun pelosok, mendapatkan fasilitas yang layak.
Tajuddin Idris menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan Provinsi, sekolah, serta mitra pembangunan seperti Tanoto Foundation dan PGRI.
"Kami tidak bisa melakukannya sendiri. Kolaborasi adalah kunci untuk menciptakan percepatan mutu pendidikan. Semua pihak harus ambil bagian," kata Tajuddin.
Enam Program Prioritas Pendidikan
Enam program prioritas Menteri Pendidikan yang diimplementasikan BPMP Sumut meliputi:
1. Penguatan Pendidikan Karakter, Membentuk generasi berkarakter kuat yang mampu menghadapi tantangan zaman.
2. Wajib Belajar 13 Tahun, Mendorong semua anak menyelesaikan pendidikan dari PAUD hingga Tingkat Menengah Keatas.
3. Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Guru Memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
4. Penguatan Literasi dan Numerasi, Memperbaiki capaian di wilayah-wilayah tertinggal.
5. Pemenuhan Sarana Prasarana Pendidikan, Meningkatkan fasilitas sekolah di kota hingga pelosok.
6. Pengembangan Bahasa dan Sastra, Mendukung kemampuan berbahasa yang baik sebagai alat komunikasi dan ekspresi.
Dengan program ini, BPMP Sumut optimistis dapat membawa perubahan signifikan dalam pendidikan di Sumatera Utara, sekaligus mencetak generasi yang siap bersaing di masa depan.
"Kami ingin Sumut menjadi salah satu daerah dengan pendidikan terbaik di Indonesia," pungkas Tajuddin Idris.
(cw9/nusantaraterkini.co)
