Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

DPR Soroti Konflik Timur Tengah, Kritik Standar Ganda dan Sikap AS

DPR kritik konflik Timur Tengah dan sikap AS, soroti standar ganda serta dampak global terhadap ekonomi Indonesia.

Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR, Aboe Bakar Al-Habsyi, melontarkan kritik keras terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.(foto: istimewa)
Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR, Aboe Bakar Al-Habsyi, melontarkan kritik keras terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.(foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR, Aboe Bakar Al-Habsyi, melontarkan kritik keras terhadap eskalasi konflik di yang melibatkan , , dan . Ia menilai situasi global saat ini semakin tidak terkendali akibat kepentingan politik kekuatan besar yang saling berhadapan.

Menurutnya, agresi militer yang terus berlangsung di menjadi pemicu utama memburuknya situasi, sementara keterlibatan aktor-aktor global justru memperkeruh konflik, bukan meredakannya. Ia juga secara terbuka menyinggung Presiden AS, Donald Trump, yang dinilai menunjukkan sikap arogan dalam merespons dinamika kawasan.

“Dunia berada di ambang ketidakpastian yang berbahaya. Ini bukan sekadar konflik regional, tetapi krisis global yang dipicu oleh ego politik dan standar ganda,” tegas Aboe Bakar, Rabu (8/4/2026).

Ia menyoroti praktik standar ganda dalam hukum internasional yang dinilai terus merugikan pihak-pihak lemah, khususnya rakyat sipil di wilayah konflik. Dalam pandangannya, tuntutan gencatan senjata permanen di bukan lagi opsi, melainkan keharusan mendesak untuk mencegah eskalasi lebih luas antara dan .

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa parlemen Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Dukungan terhadap pembentukan Kaukus Parlemen internasional untuk menghentikan perang disebutnya sebagai langkah politik yang harus diperkuat, meski dampaknya belum bisa diukur secara langsung.

“Diam berarti membiarkan. Diplomasi parlemen harus menjadi tekanan moral dan politik bagi negara-negara yang terus memainkan konflik,” ujar anggota Komisi III DPR ini.

Namun demikian, Aboe Bakar juga mengingatkan bahwa konflik ini tidak berdiri sendiri. Dampaknya sudah mulai terasa secara global, termasuk di Indonesia, melalui potensi lonjakan harga energi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ia menilai pemerintah harus bersikap lebih antisipatif, bukan reaktif.

“Ketergantungan pada energi global membuat kita rentan. Jika tidak ada langkah konkret seperti diversifikasi energi dan penguatan cadangan nasional, masyarakat kecil yang akan paling terpukul,” kata bekas Sekjen PKS ini.

Di tengah kritik terhadap dinamika global, ia tetap memberi catatan positif terhadap langkah Presiden yang dinilai mulai menunjukkan arah politik luar negeri yang lebih tegas. Meski begitu, ia menekankan bahwa kebijakan tersebut harus konsisten dan tidak berhenti pada simbolik semata.

“Keberanian politik harus diikuti langkah nyata. Jangan sampai hanya menjadi retorika di tengah krisis global yang nyata,” pungkasnya. 

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait