nusantaraterkini.co, MEDAN – FIFA kembali jadi sorotan dunia setelah menolak desakan agar Israel dikeluarkan dari ajang internasional, termasuk Piala Dunia 2026. Keputusan ini menuai kritik keras lantaran dianggap memperlihatkan standar ganda, terutama jika dibandingkan dengan sanksi tegas yang dijatuhkan kepada Rusia.
Dalam pertemuan penting di Swiss, FIFA memastikan federasi sepak bola Israel bebas dari hukuman apa pun, meski Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) dan sejumlah federasi lain menuntut sebaliknya.
Palestina Gigit Jari
Baca Juga : FIFA Gandeng TikTok untuk Piala Dunia 2026: Ada Siaran Langsung dan Konten Eksklusif
Usulan agar Israel disanksi bahkan tak sempat masuk ke tahap pemungutan suara dalam kongres FIFA, Kamis lalu. Para petinggi FIFA langsung menutup agenda itu tanpa langkah lanjutan.
Padahal, dukungan terhadap Palestina tidak datang sendirian. Beberapa negara anggota juga menyuarakan hal yang sama, tetapi seolah tenggelam tanpa respon. Sebagai bentuk perlawanan simbolis, Palestina merencanakan dua laga persahabatan bulan depan menghadapi tim Basque dan Catalonia, yang disebut sebagai penghormatan untuk para korban agresi.
Ironi Pidato Damai Infantino
Baca Juga : Rekor Baru! Permintaan Tiket Piala Dunia 2026 Tembus 150 Juta Pemesan
Menariknya, Presiden FIFA Gianni Infantino justru membuka pidatonya dengan seruan perdamaian. Ia menegaskan sepak bola harus jadi alat pemersatu dan mampu melampaui sekat geopolitik.
“FIFA berkomitmen memakai sepak bola untuk menyatukan orang-orang di dunia yang terpecah belah,” kata Infantino, dikutip media Spanyol Cadena Cope.
Namun, di balik retorika tersebut, banyak pihak menilai jejaring politik global justru lebih menentukan arah keputusan FIFA.
Dua Investigasi Mandek
Sebelum tuntutan terbaru ini kandas, Ketua PFA Jibril Rajoub sempat bertemu langsung dengan Infantino di Swiss. Pertemuan itu bahkan sempat dipamerkan di Instagram sang Presiden FIFA.
Sayangnya, langkah itu hanya berakhir formalitas. Dua investigasi yang diajukan Palestina sejak tahun lalu—soal dugaan diskriminasi oleh federasi Israel dan keterlibatan klub yang berbasis di wilayah pendudukan—tak kunjung diproses. Hingga kini, FIFA belum memberikan kepastian kapan kasus itu akan dituntaskan.
Politik di Balik Layar
Keputusan FIFA makin memantik spekulasi adanya intervensi kekuatan besar. Kedekatan Infantino dengan Presiden AS Donald Trump—sekutu utama Israel—sering disebut sebagai faktor utama.
Sementara itu, Qatar yang selama ini vokal membela Palestina justru mulai melunak. Mereka bahkan menyambut proposal damai Trump–Netanyahu, dengan PM Qatar menerima permintaan maaf langsung dari Netanyahu.
Dalam rapat penting FIFA tersebut, hadir pula Presiden UEFA Aleksander Ceferin dan Nasser Al-Khelaifi, bos PSG sekaligus pejabat penting Qatar. Kehadiran figur-figur berpengaruh ini semakin memperlihatkan betapa kuatnya tarik-menarik politik di balik keputusan FIFA.
Iran Bernasib Beda
Jika Israel aman dari sanksi, nasib berbeda justru dialami Iran. Federasi sepak bola mereka dipastikan tak bisa hadir dalam undian grup Piala Dunia 2026 di AS. Delegasi Iran ditolak masuk karena masih terhalang aturan larangan perjalanan yang diterapkan Presiden Trump terhadap beberapa negara, termasuk Iran.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, kini berharap FIFA bisa menengahi agar mereka tetap bisa tampil. Salah satu opsi yang sedang dibicarakan adalah memindahkan jadwal pertandingan Iran ke Kanada atau Meksiko.
(Dra/nusantaraterkini.co).
