Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Di Tengah Gempuran Bahasa Asing, DPR Minta Anggaran Kebahasaan Diperkuat

Komisi X DPR RI desak penguatan anggaran kebahasaan di Kemendikdasmen demi jaga identitas bangsa di era digital

Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad dalam rapat pembahasan anggaran, Rabu (17/6/2026). (Foto: istimewa)
Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad dalam rapat pembahasan anggaran, Rabu (17/6/2026). (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Minimnya alokasi dan kesastraan dalam RKA 2027 menjadi sorotan Komisi X . 

Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad menilai penguatan harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan pembangunan karakter dan .

Dalam pembahasan anggaran , Habib menilai pengembangan bahasa dan sastra Indonesia seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih besar, mengingat tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa nasional.

"Untuk kebahasaan dan kesastraan, nampaknya masih sangat rendah. Masih di bawah, kurang lebih sekitar Rp283 miliar, sementara yang lain-lain cukup besar," ujarnya dalam rapat pembahasan anggaran, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, saat ini tengah menghadapi tantangan serius, khususnya di kalangan generasi muda yang semakin terpapar berbagai pengaruh bahasa asing dan perkembangan teknologi digital.

Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat tersebut menilai pemerintah perlu segera menemukan formula dan metode yang efektif agar generasi muda semakin mencintai serta bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

"Bahasa Indonesia sekarang ini dalam ujian yang cukup besar, terutama berkaitan dengan generasi muda. Kita belum menemukan satu formula, metode bagaimana anak-anak kita cinta bahasa Indonesia," kata Anggota Baleg DPR ini.

Selain menyoroti dan kesastraan, Habib juga memberikan catatan terkait usulan tambahan anggaran Kemendikdasmen Tahun 2027 yang mencapai sekitar Rp40 triliun.

Menurutnya, usulan tersebut harus disertai argumentasi yang kuat agar dapat meyakinkan pemerintah mengenai urgensi kebutuhan anggaran tersebut.

"Perlu ada satu narasi yang memang mampu meyakinkan bahwa Rp40 triliun itu betul-betul kebutuhan mendesak," ujarnya.

Habib menegaskan, sektor bersama sektor kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang semestinya tidak lagi menjadi sasaran kebijakan efisiensi anggaran.

"Kita berharap untuk dua kementerian, dan kesehatan, jangan sampai terjadi lagi kebijakan efisiensi. Terutama pendidikan, ini merupakan kebutuhan dasar," tegasnya.

Lebih lanjut, Habib menekankan, bahasa dan sastra Indonesia tidak boleh dipandang sekadar sebagai pelengkap dalam pembangunan nasional. Menurutnya, penguatan kebahasaan merupakan bagian penting dari upaya membangun karakter, identitas, dan jati diri bangsa.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih proporsional terhadap program-program kebahasaan dan kesastraan dalam penyusunan anggaran tahun mendatang.

"Perhatian terhadap bahasa dan sastra Indonesia harus menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia dan karakter bangsa," pungkasnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait