Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Barantin dan FAO Luncurkan Program USD 200 Ribu, Perkuat Karantina Hewan Hadapi Penyakit Lintas Batas

Barantin dan FAO meluncurkan program USD 200 ribu untuk memperkuat karantina hewan, biosekuriti, dan cegah penyakit lintas batas.

Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dan Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal bersama perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga dalam peluncuran program senilai USD 200.000 untuk memperkuat manajemen risiko sistem perkarantinaan hewan di Indonesia, di Jakarta, Selasa (7/7) di Jakarta.(foto: badan karantina indonesia)
Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dan Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal bersama perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga dalam peluncuran program senilai USD 200.000 untuk memperkuat manajemen risiko sistem perkarantinaan hewan di Indonesia, di Jakarta, Selasa (7/7) di Jakarta.(foto: badan karantina indonesia)
A A

Nusantaraterkini.co,  — Badan Karantina Indonesia () resmi menjalin kolaborasi strategis dengan organisasi pangan dunia, Food and Agriculture Organization (), untuk memperkuat sistem dan nasional. Langkah ini diambil guna menghadapi eskalasi ancaman yang kian nyata akibat tingginya mobilitas global dan perubahan iklim.

​

Sinergi tersebut diwujudkan melalui peluncuran program Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) – Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats. Program yang didukung pendanaan sebesar USD 200.000 (sekitar Rp3,2 miliar) dari FAO ini diawali dengan menggelar Inception Workshop di , Selasa (7/7/2026).

​Kepala Barantin, , menegaskan bahwa transformasi sistem pengawasan karantina modern mutlak diperlukan agar tidak menghambat jalur perdagangan nasional namun tetap menjaga keamanan hayati.

​

“Barantin tidak ingin menjadi bottleneck di perbatasan. Namun, percepatan arus barang juga tidak boleh mengorbankan keamanan hayati Indonesia. Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Abdul Kadir Karding dalam sambutannya.

​Urgensi Perlindungan Sektor Peternakan Indonesia

​Dalam siaran pers FAO, disebutkan, Ancaman Hama dan Penyakit Hewan Karantina (), penyakit zoonosis, hingga spesies asing invasif dinilai membawa risiko sistemik yang besar. Selain berpotensi memicu kerugian ekonomi makro dan mengganggu kesehatan masyarakat, sektor ini bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.

​

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat sekitar 13 juta rumah tangga di Indonesia yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor peternakan. Oleh karena itu, akurasi analisis risiko di pintu-pintu masuk komoditas menjadi krusial.

​Untuk membangun benteng yang adaptif, dan FAO akan mengeksekusi tiga langkah taktis berikut:

• ​Peningkatan Kompetensi Petugas: Menempa keahlian teknis petugas karantina dalam melakukan analisis dan manajemen risiko sesuai standar internasional.

• ​Digitalisasi Sistem Pengawasan: Mengembangkan ekosistem digital terintegrasi untuk pemetaan , surveilans, serta Early Warning System (EWS) berbasis bukti ilmiah.

• ​Komunikasi Risiko Publik: Menjalankan kampanye publik guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah penyebaran penyakit secara kolektif.

​

Adopsi Pendekatan untuk Keamanan Perdagangan

​

Sementara itu, Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, , mengingatkan bahwa kompleksitas penyakit hewan lintas batas saat ini tidak bisa lagi diselesaikan secara parsial atau sektoral. FAO mendorong penuh penerapan prinsip One Health.

​

“Sistem merupakan garda terdepan dalam melindungi negara dari ancaman penyakit lintas batas. FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman, sekaligus menjaga keamanan perdagangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem,” kata Rajendra Aryal.

​Melalui penguatan manajemen risiko berbasis sains ini, sistem karantina Indonesia diharapkan tidak hanya kokoh sebagai tameng pelindung hayati, melainkan juga mampu meningkatkan trust atau kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas asal Indonesia di pasar internasional. 

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait