Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

128 Warga Meninggal, 88 dari 102 Korban Hilang Ditemukan Pascabanjir Besar Aceh Utara

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Banjir Bandang Menerjang Tiga Provinsi di Sumatera (foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co, ACEH UTARA – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara merilis pembaruan penanganan bencana hidrometeorologi yang menghantam wilayah tersebut sejak 22 November 2025. Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa, menyampaikan bahwa tim gabungan telah menemukan 88 dari 102 warga yang sebelumnya dilaporkan hilang.

“Alhamdulillah, dari 102 warga yang hilang, 88 sudah ditemukan. Masih ada 14 orang lagi yang sedang dalam proses pencarian,” ujar Ayahwa, Sabtu (6/11/2025).

Korban jiwa yang berhasil diverifikasi juga terus bertambah. Hingga hari ini tercatat 128 warga meninggal dunia, sebagian ditemukan dalam kondisi tidak utuh karena proses pencarian sempat terhambat cuaca ekstrem dan akses yang sulit dijangkau.

Baca Juga : Ratusan Jenazah Korban Banjir Aceh Telah Dimakamkan

Jumlah warga terdampak pun melonjak signifikan. Data posko induk mencatat 107.123 keluarga terdampak yang kini tersebar di 503 titik pengungsian aktif. Kelompok rentan yang ikut terdampak antara lain 1.081 ibu hamil, 6.927 balita, 4.536 lansia, dan 274 penyandang disabilitas.

Ayahwa menegaskan bahwa data ini masih bersifat dinamis. Hingga kini, beberapa desa masih terisolasi akibat jalan terputus dan derasnya aliran sungai, membuat tim penyelamat harus bekerja ekstra.

“Kami bekerja siang dan malam. Situasi di lapangan sangat berat, dan sebagian jenazah ditemukan dalam kondisi rusak karena terlalu lama berada di air,” jelasnya.

Ia juga mengajak relawan dari berbagai daerah untuk bergabung dalam upaya pemulihan Aceh Utara. “Silakan datang ke posko utama di Pendopo Bupati. Peta wilayah terdampak sudah disiapkan agar proses penugasan lebih terarah,” tambahnya.

Banjir besar ini disebut sebagai yang terparah dan pertama terjadi di Aceh Utara. Bencana dipicu curah hujan ekstrem dan longsoran pada 22 November 2025, yang kemudian disusul banjir di beberapa kabupaten lain sejak 26 November. Hingga kini, pemerintah daerah, TNI–Polri, BPBD, SAR, dan relawan masih terus melakukan evakuasi, distribusi logistik, pelayanan kesehatan, dan pencarian korban.

(Dra/nusantaraterkini.co)