Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Setahun Pemerintahan Prabowo, Pakar Soroti Dua Anggota Kabinet Jadi Figur Menarik Perhatian Publik

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Hensa), menyoroti dua anggota kabinet pada masa satu tahun pemerintahan

Setahun kepemimpinan probowo (foto :ist)
Setahun kepemimpinan probowo (foto :ist)
A A

Nusantaraterkini.co,Jakarta - Tepat 20 Oktober 2025 adalah satu tahun masa kerja -Gibran usai dilantik menjadi Presiden-Wakil Presiden.

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Hensa), menyoroti dua anggota kabinet pada masa satu tahun pemerintahan Presiden yang kerap menarik perhatian publik.

Mereka yakni Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

Ia mengamati Purbaya menjadi sorotan karena gaya komunikasinya yang lugas serta langkah cepatnya dalam menangani isu-isu keuangan sejak menjabat sebagai Menteri Keuangan. Pernyataan dan kinerjanya kerap memicu diskusi di kalangan masyarakat.

“Purbaya wajar menjadi perbincangan. Gaya bicaranya yang ‘ceplas-ceplos’ dan kecepatannya dalam menyelesaikan masalah keuangan menarik perhatian publik,” katanya, Senin (20/10/2025).

Di sisi lain, Teddy juga menjadi perbincangan karena perannya sebagai Seskab. Sebagian pihak menilai Teddy kerap membatasi akses untuk berkomunikasi langsung dengan Presiden Prabowo sehingga memunculkan diskusi tentang peran dan pengaruhnya.

Hensa sapaan akrabnya mengamati Teddy memiliki tugas untuk mengatur jadwal dan kegiatan Presiden. Mulai dari masa Prabowo sebagai Menteri Pertahanan, kampanye Pilpres 2024 hingga menjabat sebagai Presiden, ia melihat Teddy dikenal berperan dalam mengelola agenda kepresidenan.

“Saya melihatnya Teddy berperan mengatur waktu dan kegiatan Presiden. Sejak jadi Menhan, kampanye hingga kini menjabat Presiden, dia terlihat mengelola agenda dan memperkenalkan relasi baru, terutama saat kampanye,” ujar dia.

Selain itu, ia berpendapat seorang Seskab memiliki tugas untuk memilah kegiatan yang dianggap strategis bagi Presiden.

Menurutnya, tidak semua agenda harus dihadiri langsung oleh Presiden sehingga peran tersebut menjadi penting untuk menjaga fokus kepala negara dalam menentukan kebijakan.

“Pemilihan kegiatan strategis itu penting. Tidak mungkin Presiden menghadiri semua agenda atau bertemu semua pihak. Ini membantu Presiden tetap fokus dan prima dalam mengambil keputusan,” ucapnya.

Ia juga mengamati tidak semua pihak dapat bertemu langsung dengan Presiden. Untuk itu, ada peran Seskab Teddy, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi hingga tokoh lainnya seperti Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang menjadi gerbang komunikasi dengan pihak lain.

Lebih lanjut, ia mencatat Teddy telah bekerja di bawah dua Presiden berbeda dengan masa jabatan yang cukup panjang. Hal itu menunjukkan dia dipercaya untuk menjalankan tugasnya.

“Teddy sudah bekerja untuk dua Presiden berbeda dengan waktu yang cukup lama. Ini menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kinerjanya, dan yang tahu kinerjanya bagus atau tidak ya Presidennya,” tegas pendiri lembaga survei KedaiKopi ini.

Belum Tunjukkan Hasil Siginifikan

Pandangan lain soal Pemerintahan Prabowo-Gibran juga disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti menilai kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama satu tahun terakhir belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Ray pun tak ragu memberi nilai 6 dari skala 10 untuk capaian pemerintahan, dengan alasan kegagalan di sejumlah sektor penting, seperti reformasi politik, perbaikan ekonomi, dan pembangunan hukum.

“Saya kira kalau dikasih nilai dalam satu tahun terakhir pemerintahan Pak Prabowo, saya kira nilainya 6,” kata Ray Rangkuti.

Menurutnya, nilai tersebut sudah disertai “safety margin”, sebab jika menilai secara objektif, kinerja pemerintahan sejauh ini belum mampu mencapai target reformasi yang diharapkan masyarakat.

“Karena menurut saya, meskipun saya kasih safety, tapi sebetulnya pembuatannya itu gagal gitu. Jadi gagal di bidang apa? Reformasi politik dan demokrasi. Gagal di mana? Di perbaikan ekonomi. Gagal di mana? Di pembangunan hukum,” tegasnya.

Ia menegaskan, dalam tiga sektor utama tersebut, pemerintahan Prabowo belum mampu menunjukkan arah perubahan yang nyata, yakni pembangunan reformasi politik dan demokrasi, perbaikan ekonomi, serta pembangunan hukum.

Meski begitu, ia mengakui masih ada hal yang bisa diapresiasi dari pemerintahan Prabowo. Salah satunya, menurut dia, adalah upaya pemberantasan korupsi yang belakangan justru banyak dilakukan oleh aparat penegak hukum di luar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Tapi ada yang menonjol nih di era Pak Prabowo. Itu yang membuat dia menjadi senyap. Apa itu? Pemberantasan korupsi. Lumayan. Bukan oleh KPK, (tapi) oleh Kejaksaan Agung. Nah, di situ saya memberi apresiasi kepada Pak Prabowo,” tandasnya. (cw1/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait