Rupiah Mulai Bangkit, Menguat Tipis Lawan Dolar AS
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan sinyal positif pada pembukaan perdagangan Selasa (28/10/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot
nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan sinyal positif pada pembukaan perdagangan Selasa (28/10/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka di level Rp16.620 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat tipis dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.621 per dolar AS pada Senin (27/10/2025).
Pergerakan mata uang di kawasan Asia juga bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,31 persen, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,26 persen, ringgit Malaysia naik 0,16 persen, dan baht Thailand menguat 0,14 persen.
Adapun dolar Singapura turut terapresiasi 0,08 persen, yuan China naik 0,07 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,008 persen. Sebaliknya, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,41 persen, sementara won Korea Selatan terkoreksi 0,15 persen terhadap greenback.
Faktor Penggerak: Sentimen Global dan Domestik
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah kali ini masih dipengaruhi kombinasi faktor global dan internal. Menurutnya, penguatan terbatas dolar AS yang tercermin dari indeks dolar (DXY) pada perdagangan Senin sore memberikan tekanan sementara bagi mata uang regional.
“Pasar tengah menanti arah kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama dunia. Fokus utamanya tentu pada putusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan Kamis dini hari waktu Indonesia,” kata Ibrahim.
Selain itu, laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan hasil lebih rendah dari perkiraan, memperkuat spekulasi akan adanya penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang.
Faktor Domestik: Ekonomi Diprediksi Melambat
Dari sisi domestik, pelaku pasar turut memantau proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 yang diperkirakan melambat. Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan hanya mencapai 4,9 persen (year-on-year), lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,12 persen.
Meski demikian, sejumlah analis meyakini stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik, didukung cadangan devisa yang kuat dan inflasi yang relatif terkendali.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELKabut Asap Pekat, Enam Penerbangan di Bandara SMB II Palembang Terdampak
Rozie Winata·7 menit yang lalu -
KRIMINALKasus Korupsi Proyek, Kejati Sumsel Limpahkan Wabup PALI Nonaktif ke Kejari Palembang
Rozie Winata·23 menit yang lalu -
INTERNASIONALUnik! Makam Kuno Era Romawi Berbentuk Piramida Ditemukan di Mesir
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KESEHATANWaspada! 27 Kasus Influenza A Terdeteksi di Medan dan Deliserdang
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELPolda Sumsel dan Bhayangkari Gelar Bakti Sosial di Pulau Borang Banyuasin
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
KOTA MEDANSakit Hati Ditalak, Istri Laporkan Suaminya ke Poldasu
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWS VIDEOTarget Semifinal FIFA ASEAN Series, Habib Syarief Soroti Regenerasi dan Strategi Timnas
Fadli Tara·2 jam yang lalu -
SUMSELDiselimuti Asap Karhutla, Kualitas Udara Palembang Kembali Masuk Zona Merah
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NASIONALNanan Desak Investigasi Dugaan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong Dibuka Transparan
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
KRIMINALDirektur Reskrimum Ungkap Alasan Panggil Ketua DPRD Sumut Terkait Kasus Dhody Thahir
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan