Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Diproyeksi Masih Tertekan, Bergerak di Kisaran Rp17.600–Rp17.700 per Dolar AS

Rupiah diperkirakan bergerak volatile di level Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS dipicu sentimen global dan tekanan pasar domestik.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda diproyeksi bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per seiring tingginya volatilitas pasar keuangan global dan domestik.

Mengacu pada data perdagangan TradingView, ditutup melemah 0,40% ke posisi Rp17.670 per pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut sejalan dengan tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Beberapa mata uang regional tercatat mengalami depresiasi, di antaranya yen Jepang yang melemah 0,11%, yuan China turun 0,01%, dolar Singapura terkoreksi 0,20%, serta won Korea Selatan melemah 0,51%. Selain itu, peso Filipina turun 0,11% dan baht Thailand melemah 0,34%.

Sementara itu, dolar Taiwan menjadi salah satu mata uang yang mampu menguat terhadap dolar AS dengan kenaikan 0,18%. Di sisi lain, rupee India turun 0,13% dan ringgit Malaysia terkoreksi tipis sebesar 0,03%.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen risk off yang membayangi pasar keuangan domestik. Berdasarkan perdagangan pasar spot, rupiah ditutup turun 13,5 poin ke level Rp17.667 per dolar AS.

Menurutnya, pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan jual di pasar saham domestik yang belum mereda dalam beberapa hari terakhir. Investor disebut masih mencermati sejumlah dinamika kebijakan dalam negeri yang dinilai dapat memengaruhi iklim investasi.

Salah satu isu yang menjadi perhatian pasar ialah wacana ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai memunculkan kekhawatiran terkait potensi perubahan regulasi serta meningkatnya peran negara pada sektor berbasis sumber daya alam.

Dari sisi eksternal, pelaku pasar juga terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong investor global cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS.

Penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, pasar juga menanti rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal I/2026. Defisit transaksi berjalan diperkirakan masih terjadi, meski nilainya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, yakni sekitar US$0,8 miliar.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru