Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah dan Emas Menguat Tajam, Yield Sekuritas Rupiah BI Naik

Penguatan kinerja sektor keuangan di tanah air tidak terlepas dari kombinasi sentimen geopolitik serta akumulasi investor membeli surat berharga

Bagikan:
Ilustrasi harga emas dan rupiah menguat tajam. (Montase Nusantaraterkini.co)
Ilustrasi harga emas dan rupiah menguat tajam. (Montase Nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan telah bersepakat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan. Mayoritas pasar saham di Asia ditransaksikan di zona hijau pada perdagangan Senin (15/6/2026) hari ini.

Di mana Indeks Harga Saham Gabungan () ikut dibuka menguat di level 6.118 di mana kinerja mata uang pada sesi perdagangan pagi ini juga mengalami penguatan ke level 17.745 per US Dolar.

Pengamat menyatakan penguatan kinerja sektor keuangan di tanah air tidak terlepas dari kombinasi sentimen geopolitik serta akumulasi investor membeli surat berharga yang diterbitkan di tanah air.

“Setelah sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun yang sempat mendekati 7,5 persen. Meskipun saat ini berada di kisaran level 7.165 persen, yield Sekuritas Bank Indonesia (SRBI) yang menyentuh 7,5 persen juga turut mendorong penguatan mata uang rupiah,” terang kepada nusantaraterkini.co, Senin (15/6/2026).

Ia mengatakan kenaikan Yield SRBI tenor 12 bulan setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebelumnya menjadi daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke instrument surat hutang.

“ dan rupiah berpeluang bertahan di zona hijau selama sesi perdagangan berlangsung. Baik mata uang rupiah dan IHSG masih dinaungi kabar positif. Minimnya data penting yang akan dirilis juga akan membuat IHSG dan rupiah minim alami tekanan,” katanya.

Sementara itu, masih dikatakan Gunawan Benjamin, harga dunia pada perdagangan hari ini ditransaksikan menguat ke level $4.335 per ons troy atau sekitar 2.48 juta per gram. 

“Harga punya potensi untuk menguat lebih tinggi, meskipun saat ini pelaku pasar masih mengkhawatirkan kemungkinan memburuknya laju tekanan ifnflasi yang berpotensi memicu respon kenaikan suku bunga acuan The Fed,” pungkasnya.

(Akb/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru