Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kajian ITB: Banjir Sumatra Dipicu Siklon Tropis Senyar, Alih Fungsi Lahan Korporasi Berkontribusi Kecil

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas Saat Memaparkan Hasil Riset Kajian Banjir Sumatra. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelesaikan kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru), perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika. 

Hasil kajian menunjukkan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, sehingga kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut.

Baca Juga : Jaga Pendidikan Anak-anak Penyintas Bencana, Dompet Dhuafa Renovasi Sejumlah Sekolah di Sumatra

CENAGO menyatakan, temuan ini menunjukkan pentingnya pendalaman berbasis data dan analisis komprehensif dalam menarik kesimpulan mengenai faktor penyebab serta pertanggungjawaban suatu bencana. 

Baca Juga : Bulog Pertebal Cadangan Pangan di Sumatra: Antisipasi Defisit Produksi Akibat Banjir 70 Ribu Hektare

Hasil riset menunjukkan bahwa kontribusi perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS yang dianalisis relatif kecil dibandingkan dengan skala faktor cuaca ekstrem yang terjadi. 

Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas, mengatakan analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan porsi alih fungsi lahan tiga korporasi terhadap luas DAS relatif kecil. PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE 0,02 persen. 

Baca Juga : BMKG: Ex-Siklon Tropis Senyar Melemah, Dampak Tidak Langsung Masih Berpotensi

“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” kata Heri, Sabtu (21/2/2026).

Baca Juga : Peringatan Gelombang Laut: Waspada Ketinggian hingga 4.0 Meter

Tidak hanya mengandalkan identifikasi dan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan, CENAGO juga menggabungkan data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi hidrolika. 

Heri mengungkapkan hasil analisis CENAGO terhadap citra satelit resolusi tinggi menunjukkan banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi. 

Curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).

"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," ujar Heri. 

Dengan intensitas hujan yang melampaui standar mitigasi nasional itu, CENAGO menilai bencana tersebut berada pada tingkat yang secara perencanaan melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku.

Pembahasan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion bertajuk "Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan". FGD dihadiri oleh perwakilan kementerian dan lembaga serta organisasi profesi.   

Dalam forum tersebut, perwakilan BMKG memaparkan fenomena Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025 yang memicu hujan ekstrem di beberapa wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi. Kombinasi hujan ekstrem dan longsor memicu banjir bandang, termasuk di Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Akademisi ITB dari Kelompok Keahlian (KK) Geologi, Dr. Ahmad Imam Sadisun, menambahkan bahwa area longsor yang dipengaruhi hujan ekstrem masif yang terjadi pada zona Toba Tuff dengan kemiringan sangat curam banyak terdapat di hulu DAS Garoga dan hutan lindung. 

Dari sisi geomorfologi, area tambang PT AR yang jauh posisinya dengan Desa Garoga dan berbeda sub-DAS dipastikan tidak berkontribusi terhadap banjir di sekitar Desa Garoga. Secara prinsip aliran, air tidak mungkin mengalir dari elevasi lebih rendah menuju wilayah lebih tinggi. Adapun, PT TBS berada di luar DAS Garoga.  

CENAGO juga melakukan simulasi banjir model hidrologi dan hidrolika dengan berbagai skenario, termasuk skenario seluruh wilayah DAS berupa hutan dan skenario keberadaan tambang dan lain-lain. 

Hasil simulasi menunjukkan PT AR tercatat hanya berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir atau penambahan runoff (air hujan yang tidak meresap ke tanah) sebesar 0,71 persen. 

Adapun, PT NSHE tercatat hanya 0,05 persen dan 0,01 persen, serta PT TBS berkontribusi terhadap banjir 1,7 persen atau penambahan runoff sekitar 0,06 persen.

CENAGO menegaskan pentingnya pemanfaatan data geospasial berketelitian tinggi dalam pengambilan keputusan kebencanaan. Pendekatan berbasis sains dinilai krusial untuk memastikan setiap kesimpulan mengenai penyebab bencana disusun secara objektif, terukur, dan proporsional, termasuk dalam melakukan forensik bencana banjir.

“Masih ada pekerjaan rumah sangat besar, yaitu penggunaan data dan informasi, seperti data geoscience, bagi penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah,” ujarnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)