Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Jembatan Ampera jadi Cagar Budaya Nasional, Pemko Palembang Siap Kelola Menara

Jembatan Ampera jadi Cagar Budaya Nasional, Pemko Palembang Siap Kelola Menara

Bagikan:
A A

Nusantaraterkini.co,  - ditetapkan sebagai nasional oleh Kementerian Kebudayaan karena dinilai memenuhi syarat dan memiliki nilai sejarah bagi Kota Palembang, Sumatera Selatan

“Memang Kementerian Kebudayaan sekarang kita sedang mengejar penetapan cagar- nasional,” ujar Menteri Kebudayaan, Fadli Zon saat diwawancarai langsung usai meninjau Museum A.K Gani, Jum’at (11/9/2026).

Fadli mengatakan merupakan salah satu monumen dan ikon Kota yang telah berusia lebih dari setengah abad. 

Keberadaannya juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakat di daerah tersebut.

“Jembatan Ampera ini kan termasuk salah satu yang juga dirintis perannya ada di A.K. Gani juga. Jadi itu merupakan satu monumen, satu ikon di Kota Palembang dan sudah lebih berumur dari 50 tahun, bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakat di sini,” ujarnya.

Menurutnya, penetapan tersebut dilakukan karena Jembatan Ampera telah memenuhi syarat sebagai cagar budaya nasional. 

Status itu diharapkan membuat nilai sejarahnya lebih diperhatikan dan memudahkan upaya intervensi untuk pelindungan.

“Ya karena itu kita tetapkan sebagai cagar budaya nasional karena memang sudah memenuhi syarat-syarat itu supaya kita lebih aware, lebih menghargai dan juga lebih mudah untuk melakukan intervensi,” imbuhnya.

Ia mengatakan jika status sebagai cagar budaya juga menjadi bentuk perlindungan agar penanganan terhadap bangunan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan.

“Dan tidak sembarangan misalnya berubah, dikalkulasi, dan sebagainya,” katanya.

Dalam upaya pemajuan dan pelindungan cagar budaya, Kementerian Kebudayaan akan melakukan intervensi terhadap hal-hal yang dapat ditangani kementerian, termasuk revitalisasi cagar budaya dan museum.

“Kita di Kementerian Kebudayaan pasti akan melakukan intervensi terhadap hal-hal yang bisa kita lakukan. Misalnya untuk revitalisasi cagar-cagar budaya tersebut, museum,” ucapnya.

Sementara untuk penanganan Jembatan Ampera, ia menegaskan jika diperlukan keterlibatan pihak yang memiliki keahlian di bidang tersebut.

“Tapi kalau untuk jembatan tentu itu ada pakarnya lah. Mungkin di pekerjaan umum, mungkin di tempat lain. Tapi itu sebagai cagar budaya juga kita jaga besar,” tegasnya.

Selain Jembatan Ampera, dirinya juga menyampaikan rencana penanganan Benteng Kuto Besak. 

Kementerian Kebudayaan telah membicarakan kondisi eksisting benteng tersebut bersama pihak TNI dan mengkajinya dengan berbagai ahli.

“Untuk benteng terbesar, eksisting kita sudah bicara dengan pihak TNI. Sudah kita kaji dengan berbagai ahli. Ya, memang kalau kita lihat dari awalnya sudah berubah fungsinya,” ungkapnya.

Ia menyampaikan jika kondisi eksisting yang berada di luar tidak menjadi persoalan selama tidak mengganggu fasad secara umum. 

Hal tersebut juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat terhadap rumah sakit yang kini telah berfungsi sebagai klinik.

“Tapi kita sampai pada satu kesepakatan, karena memang itu sudah ada eksistingnya. Eksistingnya itu tidak ada masalah karena itu berada di luar, tetapi tidak boleh mengganggu secara umum fasad karena memang masyarakat juga memerlukan rumah sakit yang sekarang sudah berfungsi sebagai klinik,” terangnya.

Ia mengungkapkan jika pihaknya telah meminta agar Benteng Kuto Besak dapat terbuka untuk masyarakat dan sejumlah bagian direvitalisasi. 

Benteng tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Kota Palembang dan Sumatera Selatan.

“Tetapi kita sudah minta agar benteng yang terbesar itu terbuka untuk masyarakat dan bagian-bagian tertentu itu direvitalisasi,” ungkapnya.

Ia berharap hasil pertemuan dengan pihak Kodam dapat membuka akses masyarakat ke Benteng Kuto Besak sehingga kawasan tersebut dapat menjadi tujuan budaya maupun wisata sejarah.

“Saya yakin nanti hasil pertemuan terlebih hari dengan pihak dari Kodam ini akan membuka untuk masyarakat untuk bisa mengakses, bisa masuk dan bisa menjadikan Benteng Kuto Besak juga tujuan dari budaya atau wisata sejarah,” tuturnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Palembang merespons positif penetapan Jembatan Ampera sebagai cagar budaya nasional. 

Pemko juga berencana membicarakan pengelolaan jembatan, termasuk dengan pihak lainnya dan Balai Besar Jalan Nasional (BBJN), agar menjadi tanggung jawab pemerintah kota.

“Untuk pengelolaan akan kita bicarakan (dengan pihak lainnya termasuk dari BBJN) agar jadi tanggung jawab pemkot,” jelas Wali Kota Palembang, Ratu Dewa saat mendampingi Menteri Kebudayaan meninjau Benteng Kuto Besak.

Dewa menyebut penetapan tersebut menjadi hal positif bagi Kota Palembang yang memiliki banyak aset, serta nilai sejarah dari berbagai bangunan dan infrastruktur bersejarah.

“Terima kasih banyak, karena Jembatan Ampera Palembang sebagai ikon kebanggaan bisa dilindungi nilainya (sejarah),” lanjutnya.

Ke depan, Pemkot Palembang berencana mengelola menara Jembatan Ampera dan memaksimalkan pemanfaatannya untuk kegiatan wisata. Menara 1 dan 2 juga akan diupayakan agar dapat dibuka untuk masyarakat.

“Setelah ini akan ada pengelolaan menara 1 dan 2, dimaksimalkan manfaatnya untuk wisata. Maksimalkan menara agar bisa bersifat naik turun yang dapat dibuka untuk orang banyak,” tandasnya.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait