Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Berpotensi Bangkit, Sentimen Global Membaik Usai Sinyal AS Mundur dari Konflik Iran

IHSG berpotensi rebound usai sentimen global membaik, dipicu sinyal AS mundur dari konflik Iran dan penguatan signifikan Wall Street.

BEI sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt). (BAY ISMOYO/AFP)
BEI sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt). (BAY ISMOYO/AFP)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan memiliki peluang untuk menguat kembali pada perdagangan Rabu (1/4/2026), setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya.

Pada penutupan Selasa (31/3/2026), IHSG tercatat melemah sebesar 0,61 persen, dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai sekitar Rp1,17 triliun. Tekanan tersebut terutama terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Meski demikian, analis melihat peluang pemulihan mulai terbuka. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak di area support 6.950–7.000 dan berpotensi menguji resistance di kisaran 7.150 hingga 7.300.

Sejumlah saham masuk dalam radar trading hari ini, di antaranya BUMI, BIPI, UNTR, ENRG, BWPT, dan HRTA. Untuk saham BUMI, direkomendasikan speculative buy pada rentang harga Rp212–Rp216, dengan batas cut loss di bawah Rp210 serta target jangka pendek di kisaran Rp222–Rp230.

Dari pasar global, sentimen positif datang dari bursa saham Amerika Serikat. Penguatan signifikan terjadi di setelah muncul harapan meredanya konflik di Timur Tengah.

Indeks Dow Jones melonjak 2,49 persen, S&P 500 naik 2,91 persen, dan Nasdaq Composite memimpin dengan penguatan 3,83 persen. Optimisme ini dipicu oleh sinyal terbukanya peluang deeskalasi konflik, termasuk pernyataan Presiden Iran yang membuka ruang negosiasi.

Selain itu, laporan media internasional menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan penghentian operasi militer, yang semakin memperkuat sentimen positif di pasar.

Kenaikan juga terlihat pada saham teknologi raksasa, seperti Nvidia yang melonjak 5,6 persen dan Microsoft yang naik 3,1 persen.

Namun, kondisi berbeda terjadi di kawasan Asia. Mayoritas indeks saham justru melemah akibat kekhawatiran terhadap ketidakpastian pasokan energi global.

Tekanan terbesar terjadi di Korea Selatan dengan indeks Kospi turun 4,3 persen dan Kosdaq merosot 4,9 persen. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang turun 1,6 persen dan Topix melemah 1,3 persen.

Di pasar energi, harga minyak masih bergerak fluktuatif. Minyak Brent naik hampir 5 persen ke level US$118,35 per barel, dipicu gangguan distribusi di Selat Hormuz. Di sisi lain, minyak WTI justru turun 1,46 persen ke posisi US$101,38 per barel.

Dengan kombinasi sentimen global yang mulai membaik dan peluang teknikal yang terbuka, berpotensi bergerak rebound, meskipun volatilitas masih perlu diwaspadai.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait