DPR Desak MoU Antikorupsi MA-KPK Bukan Sekadar Gimmick: ASN Harus Berubah
DPR dukung MoU MA-KPK terkait pendidikan antikorupsi ASN, tekankan implementasi nyata dan perubahan pola pikir
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota Komisi X DPR Andi Muawiyah Ramly menyatakan dukungan penuh terhadap penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pendidikan antikorupsi antara Mahkamah Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyasar aparatur sipil negara (ASN).
Politikus yang akrab disapa Amure itu menilai kerja sama tersebut sebagai momentum penting dalam memperkuat fondasi integritas birokrasi melalui pendidikan yang sistematis dan berkelanjutan. Menurutnya, persoalan korupsi tidak semata aspek hukum, tetapi juga berkaitan dengan krisis nilai dan mentalitas.
“Pendidikan antikorupsi bukan sekadar pelengkap administratif. Ini harus menjadi gerakan perubahan pola pikir ASN, dari sekadar menjalankan aturan menjadi penjaga integritas publik,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan agar implementasi MoU tidak berhenti sebagai simbol atau seremoni belaka. Amure menilai banyak program serupa sebelumnya belum memberikan dampak signifikan akibat minimnya pengawasan, evaluasi, serta keberanian melakukan perubahan struktural.
“Jangan sampai ini hanya gimmick. Kita butuh kurikulum yang hidup, metode yang kontekstual, dan evaluasi yang transparan. ASN harus benar-benar mengalami transformasi,” tegas legislator dapil Sulsel ini.
Ia juga mendorong agar pendidikan antikorupsi dirancang secara progresif, tidak hanya berbasis teori, tetapi juga mengedepankan studi kasus, pengalaman nyata, serta terintegrasi dengan sistem penilaian kinerja ASN. Kolaborasi lintas sektor antar lembaga negara dinilai menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
Dalam pandangannya, upaya pemberantasan korupsi selama ini masih terlalu berfokus pada penindakan, sementara aspek pencegahan melalui pendidikan belum digarap secara optimal.
“Kalau kita ingin perubahan berkelanjutan, pendidikan antikorupsi harus menjadi arus utama reformasi birokrasi. Ini investasi moral bangsa,” tambahnya.
Sebelumnya, MA melalui Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan (BSDK) bersama KPK resmi menandatangani kerja sama pendidikan antikorupsi.
Kepala BSDK MA, Syamsul Arief, menyampaikan bahwa program akan dimulai pada 18 Mei 2026 dengan melibatkan 200 Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri dari seluruh Indonesia.
“Pada tahap awal akan ada 200 peserta yang mengikuti pelatihan selama satu minggu. Materi mencakup antikorupsi, akuntabilitas, transparansi, serta aspek penanganan perkara,” jelasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
INTERNASIONALIran-AS Kembali Memanas! Dua Rudal Hantam Pulau Qeshm, Trump Akui Serangan Terbatas
hendra·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALTegur Suami Gegara Judi, Istri di Jakbar Dianiaya hingga Disundut Bara Rokok
hendra·2 jam yang lalu -
NASIONALHasto Ungkap PDIP Intensif Lobi Fraksi DPR, Dorong Tindak Lanjut Putusan MA soal Gibran
hendra·3 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALUsai Pesta Miras, Pria di Maros Tikam Keponakan hingga Kritis gegara Salah Paham soal Gaji
hendra·4 jam yang lalu -
NEWSDKPP Terima 5 Aduan soal Pencalonan Gibran, Dua Siap Masuk Tahap Persidangan
hendra·5 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALWN Malaysia Rampok Warga Batam Pakai Pisau dan Airsoft Gun, Gasak Mobil hingga Rp292 Juta
hendra·5 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPolisi Sita 1,2 Juta Pil Tramadol Ilegal, Pria Asal Aceh Ditangkap
hendra·6 jam yang lalu -
-
SUMSELGapeka 2026 Berlaku 1 Desember, KAI Palembang Imbauu Penumpang Cek Ulang Jadwal Tiket
Rozie Winata·6 jam yang lalu -
NEWSPengurus JMSI Karo Resmi Dilantik, Siap Bersinergi dengan Pemkab
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan