Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ancaman Klaim Budaya, Junaidi Naibaho Tegaskan Pentingnya Edukasi dan Promosi Batik

Editor :  Rozie Winata
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Junaidi Naibaho. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Dalam momentum peringatan Hari Batik Nasional, isu klaim budaya kembali menjadi sorotan penting bagi bangsa Indonesia.

Diketahui, beberapa tahun silam, batik yang selama ini menjadi salah satu identitas budaya utama Indonesia, sempat diklaim oleh negara tetangga sebelum akhirnya diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia.

Baca Juga : Batik Jadi Lambang Kehangatan Diplomasi Saat  Presiden Prabowo Gelar Jamuan Santap Malam Kenegaraan untuk Presiden Ramaphosa

Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tanpa langkah yang tepat, budaya nasional bisa diambil alih oleh pihak lain.

Baca Juga : Lapas Cipinang Tampilkan Karya Batik Warga Binaan di Gelar Batik Nusantara 2025

Peneliti muda magister PKN di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan alumni berprestasi Universitas Negeri Medan (Unimed) Junaidi Naibaho menekankan pentingnya upaya kolektif untuk menjaga kelestarian batik.

Junaidi mengungkapkan bahwa insiden klaim tersebut seharusnya menjadi peringatan keras bagi seluruh masyarakat dan pemerintah Indonesia.

“Batik pernah diklaim oleh negara tetangga, dan itu menunjukkan bahwa budaya kita sangat berharga namun sekaligus rentan. Kejadian ini mengajarkan bahwa jika kita tidak menjaga dan mempromosikan budaya kita dengan baik, pihak luar akan dengan mudah mengambilnya,” jelasnya, Rabu (2/10/2024).

Salah satu masalah utama, menurut Junaidi, adalah kurangnya edukasi tentang batik di kalangan generasi muda. Banyak anak muda yang melihat batik hanya sebagai pakaian tradisional tanpa memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

“Ini adalah masalah serius. Jika generasi penerus tidak mengenal nilai dan sejarah batik, maka budaya kita bisa tergeser oleh tren global yang lebih modern,” tambahnya.

Dia menyarankan agar edukasi tentang batik dimulai sejak dini dengan memasukkan materi terkait ke dalam kurikulum sekolah.

“Anak-anak harus belajar tentang proses pembuatan batik, makna filosofis motifnya, serta sejarah panjang yang melatarbelakanginya. Ini penting agar batik tidak hanya dikenal sebagai tren, tetapi juga dihargai sebagai identitas bangsa,” ujarnya.

Program Profil Pelajar Pancasila (P5), yang saat ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah, disebutnya sebagai peluang besar untuk mengajarkan nilai-nilai budaya, termasuk batik.

Di samping edukasi, Junaidi juga menekankan pentingnya promosi internasional yang lebih agresif agar batik semakin dikenal luas di kancah global.

“Kita harus lebih aktif mempromosikan batik di dunia internasional, baik melalui festival, pameran budaya, maupun pemanfaatan media digital. Ini akan mencegah klaim budaya oleh negara lain di masa mendatang,” ungkapnya.

Ia pun menyambut baik langkah pemerintah yang telah melindungi batik melalui berbagai regulasi dan pengakuan UNESCO. Namun, menurut Junaidi, upaya tersebut perlu dilengkapi dengan kesadaran dari masyarakat luas.

“Regulasi memang penting, tetapi lebih penting lagi bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, benar-benar memahami bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan simbol identitas dan kebanggaan kita sebagai bangsa,” katanya.

Di akhir wawancara, Junaidi kembali mengingatkan bahwa tantangan melindungi batik di era modernisasi tidaklah ringan. Batik, yang kaya akan makna dan sejarah, harus dipertahankan sebagai bagian dari identitas nasional yang berharga.

“Batik adalah simbol dari keberagaman budaya kita dan kekuatan bangsa. Mengenakan batik bukan hanya mengikuti tren, melainkan juga wujud penghargaan terhadap sejarah dan jati diri bangsa Indonesia. Selama kita terus menghargai dan menjaga batik, tidak ada lagi negara yang dapat mengklaimnya,” pungkasnya.

(cw9/Nusantaraterkini.co)