Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

PLN Disorot soal Krisis Listrik: Tak Bangun Pembangkit Baru Selama 5 Tahun

Relawan Listrik kritik kinerja PLN. Disebut tak bangun pembangkit baru selama 5 tahun hingga picu krisis listrik

Ilustrasi bola lampu penerangan. (Foto: dok istockphoto)
Ilustrasi bola lampu penerangan. (Foto: dok istockphoto)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Koordinator Nasional Relawan Listrik untuk Negeri (Kornas ) Teuku Yudhistira mengkritik kinerja Dirut , atau Darmo yang dianggapnya tidak berbuat apa-apa selama 5 tahun masa kepemimpinannya.

Sebab menurut Yudhistira, yang melanda tanah air, khususnya di Pulau Sumatera dan Jawa terjadi tidak hanya dilatarbelakangi sebatas masalah stok batubara yang semakin menipis.

Dia menuturkan, berdasarkan hasil pengamatan dan analisis yang dilakukan pihaknya, selama kepemimpinan , tidak ada satupun pembangkit baru yang dibangun untuk memperjuangkan sistem elektrifikasi.

"Silahkan cek, ada tidak pembangkit baru yang masuk?. Tidak sekalipun ada keputusan untuk memulai baru," tegas Yudhistira dalam keterangannya, Rabu (11/6/2026).

Artinya, kata Yudhistira, selain stok batubara yang minim, ini juga disebabkan defisit kapasitas pembangkit lama yang selama ini menjadi andalan.

"Selain itu, defisit ini juga terjadi terkait masalah tata kelola misalkan kinerja dan waktu pemeliharaan pembangkit yang tidak sinkron waktunya sehingga ada masa defisit," jelasnya.

Lebih jauh Yudhistira mengatakan, keputusan investasi maupun IPP juga tidak terealisasi. 

"Karena secara natural, di Jawa inikan jumlah pelanggannya terus bertambah seiring dengan positifnya pertumbuhan ekonomi di masa presiden prabowo sebesar 5 koma sekian persen," pungkasnya.

Yudhistira juga mengkritik strategi komunikasi PLN yang dinilainya tidak transparan dalam menjelaskan kondisi kelistrikan kepada masyarakat. 

Menurutnya, selama terjadi pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Jawa, PLN lebih sering menggunakan istilah “gangguan” dan “pemeliharaan” tanpa memberikan penjelasan yang utuh mengenai akar persoalan yang terjadi.

“Publik berhak mendapatkan informasi yang jujur dan komprehensif. Jangan sampai komunikasi yang disampaikan hanya berhenti pada dua kata, yakni gangguan dan pemeliharaan, sementara masyarakat harus menanggung dampak pemadaman berulang. Yang lebih disayangkan, hampir tidak pernah ada permohonan maaf yang disampaikan secara terbuka kepada pelanggan yang dirugikan,” tegasnya.

Ia menilai pola komunikasi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap PLN. Menurutnya, perusahaan negara seharusnya mengedepankan keterbukaan informasi, termasuk menjelaskan kondisi pasokan, kapasitas pembangkit, hingga langkah-langkah perbaikan yang sedang dilakukan agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai situasi yang terjadi.

“Ketika listrik padam berulang, masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi bahwa sedang terjadi gangguan. Mereka juga membutuhkan kepastian kapan masalah selesai, apa penyebab sebenarnya, dan siapa yang bertanggung jawab. Transparansi adalah bagian dari pelayanan publik yang tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.

(Akb/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru