Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Menkes Ungkap Lonjakan Percobaan Bunuh Diri Remaja hingga 2,7 Kali, Konflik Keluarga Jadi Pemicu Utama

Percobaan bunuh diri pada remaja di Indonesia meningkat 2,7 kali lipat. Menkes menyebut konflik keluarga, perundungan, dan tekanan akademik

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Menteri Kesehatan mengungkapkan adanya peningkatan signifikan kasus percobaan bunuh diri pada kalangan remaja di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan hasil , jumlah remaja yang mencoba mengakhiri hidupnya tercatat meningkat hingga 2,7 kali lipat.

Data tersebut berasal dari survei Global School-based Student Health Survey yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan World Health Organization, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Budi menjelaskan survei tersebut mengukur dua indikator utama, yakni jumlah remaja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri serta yang telah mencoba melakukannya.

Hasilnya menunjukkan peningkatan cukup tajam pada kedua indikator tersebut.

“Remaja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri naik dari 5,4 persen menjadi 8,5 persen atau meningkat sekitar 1,6 kali lipat. Sedangkan yang sudah mencoba bunuh diri meningkat lebih tinggi, dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen atau sekitar 2,7 kali lipat,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (9/3/2026).

Selain survei tersebut, pemerintah juga mencatat laporan kasus bunuh diri pada anak dari sejumlah lembaga perlindungan anak serta layanan bantuan kesehatan mental.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan layanan kesehatan mental Healing 119 menunjukkan terdapat 115 kasus anak yang mengakhiri hidupnya sepanjang periode 2023 hingga 2024. Sebagian besar korban berusia antara 11 hingga 17 tahun.

Menurut Budi, faktor yang paling dominan mendorong munculnya keinginan bunuh diri pada anak dan remaja justru berasal dari lingkungan keluarga.

Konflik keluarga maupun pola pengasuhan yang tidak sehat disebut menjadi pemicu terbesar masalah kesehatan mental pada anak.

“Yang paling tinggi justru berasal dari faktor keluarga, misalnya konflik dalam rumah tangga atau pola asuh yang kurang baik,” ujarnya.

Selain itu, faktor lingkungan sosial juga berperan besar, terutama kasus perundungan di lingkungan pertemanan serta tekanan akademik di sekolah.

Perundungan kerap terjadi di lingkungan teman sebaya, sementara tekanan akademik muncul dari tuntutan belajar yang tinggi.

Adapun faktor psikologis dari dalam diri anak menempati urutan ketiga sebagai penyebab munculnya keinginan bunuh diri.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah menilai upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat anak, yakni keluarga dan sekolah.

Budi menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara emosional bagi anak dan remaja.

Menurutnya, jika pola pengasuhan di rumah baik dan lingkungan sekolah mampu menciptakan suasana yang aman dari perundungan, maka risiko gangguan kesehatan mental pada anak dapat ditekan secara signifikan.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait