IHSG Hari Ini Diprediksi Tembus 6.700, Dana Asing Mulai Masuk ke Saham Big Cap
IHSG diprediksi lanjut menguat ke 6.681-6.714. Dana asing mulai kembali masuk, sementara investor mewaspadai koreksi jangka pendek.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Secara teknikal, indeks diproyeksikan menguji area 6.681 hingga 6.714.
Meski prospek pasar masih positif, investor tetap perlu mengantisipasi koreksi jangka pendek. Pasalnya, volume perdagangan mulai menunjukkan penurunan meski tekanan beli masih terlihat.
MNC Sekuritas dalam risetnya menilai IHSG masih berada dalam fase bullish. Pada perdagangan Kamis (3/9/2026), IHSG menguat 1,09 persen ke posisi 6.667. Kenaikan tersebut turut disertai peningkatan volume pembelian dan mulai menutup area gap yang sebelumnya terbentuk.
MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan untuk menguji level 6.681-6.714. Namun, koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai dengan area 6.649-6.669.
Untuk perdagangan Jumat, level support IHSG berada di 6.561 dan 6.476. Sementara resistance diperkirakan berada di 6.705 dan 6.755.
Sejumlah saham juga masuk radar MNC Sekuritas, yakni ASII, BMRI, BNBR, dan CDIA.
Saham ASII direkomendasikan Trading Buy pada kisaran 4.940-5.000 dengan target harga 5.125 dan 5.200. Stop loss ditempatkan di bawah 4.920. Pada perdagangan sebelumnya, ASII melonjak 4,34 persen ke 5.050 dan didukung peningkatan volume pembelian.
Untuk BMRI, rekomendasi yang diberikan adalah Buy on Weakness pada area 4.390-4.430. Target harga berada di 4.510 dan 4.590 dengan stop loss di bawah 4.320. BMRI sebelumnya menguat 2,29 persen ke 4.460 dan masih mencatat dominasi volume pembelian.
Sementara itu, BNBR mendapat rekomendasi Trading Buy pada rentang 98-100 dengan target 105 dan 109 serta stop loss di bawah 97.
Adapun CDIA direkomendasikan Buy on Weakness pada kisaran 675-695. Target harga ditetapkan di 745 dan 785 dengan stop loss di bawah 655.
Dana Asing Mulai Kembali Masuk
Pandangan positif terhadap IHSG juga datang dari Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta.
Menurut Nafan, IHSG masih berada dalam fase reli bullish. Sejumlah indikator teknikal, termasuk MA20 dan MA60 yang membentuk bullish crossover serta indikator Stochastics K/D dan RSI, masih memberikan sinyal positif.
Namun, penurunan volume perdagangan menjadi catatan yang perlu diperhatikan karena membuka peluang terjadinya konsolidasi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, arus dana asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Nafan menyebut aliran dana tersebut terutama mengarah ke saham berkapitalisasi besar dan sektor perbankan.
“Sentimen positif IHSG pada Jumat, 4 September 2026 cukup kuat. Bahkan arus dana asing yang mulai kembali masuk dalam beberapa hari terakhir, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar dan perbankan, menjadi indikasi membaiknya investor confidence,” ujar Nafan.
Data yang dicatat Nafan menunjukkan net foreign buy di pasar reguler mencapai sekitar Rp1,11 triliun. Kendati demikian, secara year to date (ytd), pasar saham Indonesia masih mencatat net foreign sell sekitar Rp96,90 triliun.
Sepanjang tahun berjalan, IHSG juga masih berada di zona negatif dengan kinerja minus 22,89 persen.
Sentimen Global Jadi Katalis
Dari pasar global, sentimen positif datang dari bursa Amerika Serikat. Pergerakan saham teknologi menjadi salah satu penopang, termasuk saham Snowflake yang melonjak sekitar 21 persen setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang solid.
Sektor teknologi juga mendapat sentimen positif setelah Nvidia mengumumkan aksi korporasi terkait platform AI open-source Hugging Face senilai USD12,9 miliar.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,50 persen menjadi 4,77 persen setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan yield tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar ekuitas karena berpotensi menekan biaya pinjaman sekaligus mengurangi kekhawatiran investor terhadap beban utang dan tekanan inflasi.
Pasar juga mencermati sikap anggota Dewan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang dinilai lebih dovish. Waller melihat terdapat tanda-tanda disinflasi dan membuka peluang mempertahankan suku bunga acuan The Fed apabila tren penurunan inflasi berlanjut.
Namun, investor masih akan menunggu data nonfarm payrolls dan inflasi Amerika Serikat. Kedua indikator tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan pasar keuangan global.
Dari sisi geopolitik, harga minyak mentah Brent dan WTI relatif stabil tetapi masih berada pada level tinggi di tengah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan karena kenaikan harga energi berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap inflasi global.
Rupiah Menguat, Pasar Domestik Masih Resilien
Sentimen positif juga berasal dari pasar valuta asing. Rupiah menguat 0,47 persen ke level Rp17.679 per dolar AS.
Penguatan rupiah dinilai masih berpeluang berlanjut seiring langkah stabilisasi Bank Indonesia serta membaiknya pasokan valuta asing di dalam negeri.
Kepastian kepemimpinan Bank Indonesia setelah Destry Damayanti dikonfirmasi sebagai Gubernur BI juga dinilai memberikan sinyal keberlanjutan kebijakan moneter. Kondisi tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik.
Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia masih dinilai cukup resilien. Pertumbuhan ekonomi berada di sekitar 5 persen, sementara surplus perdagangan dan inflasi yang terkendali menjadi faktor pendukung.
Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,7 persen.
Melihat kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor tetap selektif dengan mengakumulasi saham yang memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, serta menunjukkan indikasi pembalikan tren.
“Investor disarankan melakukan akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah dan saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, serta menggunakan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia turut merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati pada perdagangan Jumat, yakni ARCI, INCO, dan MAPA.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELProgram Minggu Kasih, Kapolda Sumsel Serap Aspirasi Jemaat Gereja HKBP dan Serahkan Sarana Kontak Pengaduan
Rozie Winata·Beberapa detik yang lalu -
SUMSELLRT Sumsel Sedot APBN Rp300 Miliar per Tahun, Gubernur Sebut ‘Wajar’
Rozie Winata·59 menit yang lalu -
INTERNASIONALDarurat Kemanusiaan, 70.000 Tenda Pengungsi di Gaza Terendam Banjir Ekstrem
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTKA Sribilah Utama Berhenti di Stasiun Lima Puluh dan Perbaungan Mulai 1 Desember 2026
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELIntegrasi Pelabuhan Tanjung Carat dan Boom Baru Jangan Saling Mematikan
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
PERISTIWAHelikopter Water Bombing BNPB Jatuh di Sungai Barito, Seluruh Kru Selamat
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
OLAHRAGAManchester City Telan Tiga Kekalahan Beruntun, Enzo Maresca Siapkan Evaluasi Menyeluruh
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
-
INTERNASIONALPresiden Israel Tunjuk Saingan Netanyahu Bentuk Pemerintahan Baru
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
NEWSDisindir Said Didu soal LSP, Habiburokhman Singgung Doktrin Perkalian Nol
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan