Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

GREAT Institute: Pembicaraaan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan Buah dari Inkonsistensi AS

GREAT Institute nilai inkonsistensi AS soal NPT picu kegagalan damai di Pakistan dan ancam keamanan global

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa. (Foto: dok istimewa)
Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa. (Foto: dok istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pembicaraan damai antara AS dan di Pakistan dipastikan menemui jalan buntu. Wakil Presiden (AS), , mengatakan, lantaran Iran menolak meninggalkan program . 

Sikap Iran itu, menurut , karena AS selama ini inkonsisten terkait pengembangan senjata nuklir. 

Alih-alih melakukan pelucutan senjata nuklir sejak ditandatangani 1968, negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat terus memperkaya uranium untuk senjata nuklir dan menyebarkan teknologi itu kepada negara-negata sekutunya. Bahkan Israel yang tidak menandatangani NPT bebas memiliki hulu ledak nuklir dan menjadi bully di kawasan.

"Dengan situasi ini, saya kira wajar kalau negara-negara yang merasa rentan terhadap serangan AS dan sekutu merasa harus mengembangkan persenjataan serupa sebagai faktor detterence atau pencegah," ujar Direktur GREAT Institute, Dr. , Senin (13/4/2026).

"Kalau negara-negara Barat boleh menterjemahkan doktrin si vis pacem para bellum dengan meningkatkan kapasitas militer termasuk senjata pemusnah massal, maka negara-negara lain yang tidak mau jadi korban dari agresifitas negara-negara superpower akan mendorong diri mereka untuk memiliki kapasitas serupa," jelas dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.

Program Nuklir

Teguh melanjutkan, selama ini, sebagai negara yang menandatangani dan meratifikasi Iran mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, yang merupakan satu dari tiga pilar NPT.

"Kapasitas nuklir Iran selama ini digunakan untuk energi dan medis, yang dijamin oleh NPT. Namun, setelah serangan terbuka terhadap Iran tahun lalu dan tahun ini, wajar bila berkembang wacana lain tentang arti penting memiliki untuk mencegah agresi negara lain," kata Teguh.

Dia menggarisbawahi bahwa alm. Ali Khamenei sebelumnya mengeluarkan fatwa yang mengharamkan senjata nuklir karena dinilai berlawanan dengan prinsip perang dalam Islam. 

"Dalam ajaran Islam, perang dilakukan sebagai respons atas serangan pihak lain dan bersifat diskriminatif. Artinya, hanya unsur kombatan yang dapat dijadikan sasaran serangan balasan. Sementara senjata nuklir bersifat non diskriminatif yang berarti menghancurkan apapun dan siapapun," kata dia lagi.

Teguh menambahkan, saat ini yang dibutuhkan adalah konsistensi AS dan sekutu dalam implementasi NPT. Tanpa itu, negara-negara lain juga akan berlomba-lomba untuk ikut mengembangkan nuklir untuk senjata pemusnah massal.

Saat ini ada 9 negara yang memiliki senjata nuklir. Dua negara yang memiliki hulu ledak nuklir terbanyak adalah Rusia dan AS. Masing-masing memiliki 5.459 dan 5.227 hulu ledak nuklir. Kemudian China (600), Prancis (290), Inggris (225), India (180), Pakistan (170), Israel (90), dan Korea Utara (50).

"Selagi hipokrasi dan inkonsistensi terhadap implementasi NPT diteruskan, maka dunia akan menjadi arena perlombaan senjata nuklir," demikian Teguh.

(Akb/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru