Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Formappi Nilai Pidato Presiden Kontras dengan Realitas Petani dan Nelayan

Formappi menilai pidato Presiden tentang petani dan nelayan kontras dengan realitas kesejahteraan rakyat serta pemberantasan korupsi.

Lucius Karus kritisi Pidato Presiden Prabowo yang kontras dengan realitas petani dan melayan (foto:istimewa)
Lucius Karus kritisi Pidato Presiden Prabowo yang kontras dengan realitas petani dan melayan (foto:istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (), , mengkritik isi yang disampaikan di hadapan dan . Menurutnya, pidato tersebut sarat dengan pesan kepedulian terhadap rakyat, namun minim dukungan data yang menggambarkan kondisi riil masyarakat saat ini.

Lucius menilai Presiden menegaskan tujuan kemerdekaan Indonesia adalah untuk menyejahterakan rakyat serta menunjukkan kepedulian terhadap nasib dan .  Namun, menurut dia, pernyataan tersebut tidak disertai data yang dapat menjelaskan kondisi kesejahteraan petani, nelayan, maupun masyarakat secara umum.

"Pidato berapi-api yang ingin dikesankan sebagai momen unjuk kepedulian Presiden rasanya jadi hambar karena kontras dengan realitas rakyat yang ada saat ini," kata , Kamis (25/6/2026).

Ia juga menyoroti adanya sindiran Presiden kepada sejumlah pihak, mulai dari , hingga kelompok-kelompok kritis. Menurut Lucius, kritik yang berulang dalam pidato menunjukkan bahwa suara kritis masyarakat masih dianggap sebagai isu yang mengganggu pemerintah.

Selain itu, Lucius menilai komitmen pemberantasan yang kembali disampaikan Presiden hanya menjadi pernyataan yang terus diulang tanpa diikuti perubahan signifikan di lapangan.

Menurutnya, publik seharusnya sudah memahami komitmen pemerintah dalam memberantas . Namun, kemunculan berbagai kasus korupsi yang melibatkan orang-orang dekat kekuasaan dinilai menimbulkan kesan adanya kesenjangan antara pernyataan resmi pemerintah dan realitas yang terjadi.

Lucius juga mengkritik struktur pemerintahan yang dinilainya berpotensi membuka ruang bagi praktik korupsi. Ia menyoroti besarnya kabinet serta berbagai program berskala besar yang dijalankan pemerintah.

"Bagaimana mau memberantas korupsi jika pemerintahan yang dipimpin Presiden seperti memberi angin pada pelaku korupsi. Kabinet gemuk hingga program raksasa pemerintah selalu akan mungkin menumbuhkan praktik korupsi," ujarnya.

Ia menambahkan, lemahnya pengawasan serta proses rekrutmen pejabat yang dinilai banyak berasal dari lingkaran dekat Presiden turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Karena itu, Lucius menyebut pidato Presiden mencerminkan paradoks dalam saat ini. Di satu sisi, pemerintah menyampaikan berbagai komitmen untuk meningkatkan dan memberantas korupsi. 

Namun di sisi lain, menurutnya, masih terdapat berbagai persoalan yang menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi dan kenyataan di lapangan. 

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru