Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

DPR Minta Transparansi Pemerintah Soal Harga BBM

Sartono Hutomo desak transparansi harga BBM dan skema subsidi di tengah kenaikan minyak global.

Anggota Komisi XII DPR Sartono Hutomo, menilai diperlukan transparansi terkait harga keekonomian BBM serta kejelasan skema penanggung selisih harga di tengah tekanan kenaikan minyak global, Kamis (2/4/2026).(foto: istimewa)
Anggota Komisi XII DPR Sartono Hutomo, menilai diperlukan transparansi terkait harga keekonomian BBM serta kejelasan skema penanggung selisih harga di tengah tekanan kenaikan minyak global, Kamis (2/4/2026).(foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga memunculkan perhatian dari Komisi XII . Anggota Komisi XII DPR , menilai diperlukan transparansi terkait harga keekonomian BBM serta kejelasan skema penanggung selisih harga di tengah tekanan kenaikan minyak global.

Menurut Sartono, pemerintah tidak bisa terus berlindung di balik narasi stabilitas harga tanpa menjelaskan realitas biaya yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa publik berhak mengetahui berapa harga keekonomian saat ini, berapa harga jual yang ditetapkan, dan yang paling krusial siapa yang sebenarnya menanggung selisihnya.

“Jika harga ditahan sementara melonjak, maka beban itu tidak hilang. Ia hanya dipindahkan—baik ke maupun ke BUMN energi. Ini yang harus dibuka secara terang,” tegasnya, Kamis (2/4/2026).

Lebih jauh, Sartono mengingatkan adanya potensi beban quasi-fiscal yang dapat membebani BUMN energi seperti . Beban ini, jika terus dibiarkan, berisiko menggerus kesehatan keuangan perusahaan negara dan pada akhirnya melemahkan kapasitas investasi jangka panjang sektor energi nasional.

Ia juga menilai pemerintah belum menunjukkan kesiapan menghadapi skenario terburuk. , kata dia, mendesak agar dilakukan stress test terhadap dengan asumsi harga minyak global menembus USD100 per barel secara berkelanjutan. Tanpa simulasi kebijakan yang matang, Indonesia berisiko menghadapi tekanan fiskal yang serius.

“Setiap kenaikan USD1 saja bisa menambah beban fiskal hingga Rp6-7 triliun. Ini bukan angka kecil. Jika dibiarkan, defisit bisa melebar mendekati bahkan melampaui 3,5% dari PDB,” ujarnya.

Kritik ini secara implisit juga menyasar arah kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu populis. Menahan harga BBM memang memberikan efek jangka pendek berupa stabilisasi daya beli masyarakat. 

Namun, Sartono menilai langkah tersebut berpotensi menjadi “bom waktu” fiskal jika tidak diimbangi transparansi dan strategi mitigasi yang jelas.

“Jangan sampai kebijakan populis jangka pendek justru mengorbankan kesehatan fiskal jangka panjang,” tandasnya. 

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru