DPR Minta Kurikulum AI dan Koding Masuk Pesantren
Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis keislaman juga perlu dilibatkan secara aktif dalam transformasi pendidikan digital
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi X DPR Andi Muawiyah Ramly (Amure) mendorong pemerintah agar tidak hanya fokus pada sekolah umum dalam pengembangan kurikulum berbasis teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI) dan koding.
Menurutnya, pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis keislaman juga perlu dilibatkan secara aktif dalam transformasi pendidikan digital.
“Pemerintah jangan sampai abai terhadap lembaga pendidikan pesantren. Jika kurikulum AI dan koding hanya diberikan di sekolah umum, maka akan terjadi ketimpangan kompetensi digital di masa depan,” tegasnya, Rabu (6/8/2025).
Baca Juga : Pererat Sinergi dan Ukhuwah, Kapolri Bersilaturahmi ke Ponpes Al-Kautsar
Amure menilai, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan teknologi yang berbasis nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal.
Oleh karena itu, kata Amure, sudah saatnya pemerintah melalui Kemendikbudristek dan Kemenag menyusun roadmap integrasi kurikulum AI dan koding ke dalam jenjang pendidikan pesantren.
“Santri hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka harus dibekali tidak hanya ilmu agama, tapi juga kemampuan abad 21. AI dan koding adalah bahasa baru dunia kerja dan pengetahuan global. Jika santri tidak disiapkan dari sekarang, kita akan kehilangan peluang besar,” ujarnya.
Amure juga menyarankan agar penyusunan kurikulum AI dan koding di pesantren dilakukan secara bertahap dan kontekstual. Ia menekankan pentingnya pelatihan bagi para guru pesantren serta penyediaan infrastruktur teknologi sebagai prasyarat.
Baca Juga : Fraksi PKB Dorong Pemerintah Naikkan Anggaran Pesantren
“Bukan berarti langsung menyeragamkan semuanya. Tapi mulai dulu dari pesantren yang siap, dengan modul pembelajaran yang disesuaikan. Pemerintah bisa libatkan kampus-kampus IT dan komunitas digital untuk membina dan mendampingi,” tambahnya.
Sebagai legislator yang juga aktif memperjuangkan pendidikan berbasis nilai dan keadilan ini menegaskan bahwa revolusi digital tidak boleh meninggalkan pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan nasional.
“Jangan sampai transformasi digital justru menciptakan kesenjangan baru. Pemerintah wajib hadir untuk memastikan seluruh anak bangsa, termasuk santri, mendapat kesempatan yang setara untuk tumbuh dan bersaing di era teknologi ini,” pungkasnya.
(cw1/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANPemko Medan Perluas Basis Penerimaan untuk Optimalkan PAD
Rozie Winata·24 menit yang lalu -
NEWS VIDEOPemko Medan Tegaskan Penyesuaian Pajak dan Retribusi Berorientasi Kepastian Hukum dan Pelayanan Publik
Fadli Tara·42 menit yang lalu -
KRIMINALPolda Sumsel Hentikan Penyelidikan Kasus Dugaan Penggelapan Kapal Tongkang OCEANIC 238
Rozie Winata·56 menit yang lalu -
PENDIDIKANSambut Baik Instruksi Pendidikan Gratis Prabowo, Habib Syarief Ingatkan Kesiapan Fiskal Negara
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
POLITIKDPR Pastikan Pembahasan UU Ketenagakerjaan Digarap Masa Sidang Ini Sesuai Putusan MK
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTAngkutan Peti Kemas KAI Sumut Tumbuh 25 Persen Hingga Agustus 2026
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NEWSDPR Siapkan Pembahasan UU Ketenagakerjaan, Cucun: Ada Batas Waktu dari MK
hendra·2 jam yang lalu -
POLITIKPuan Tegaskan Aturan Baru Pemilu Termasuk PT 5 Persen Belum Diputuskan
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELDiduga Telilit Utang, Pria Parubaya Ditemukan Tewas Tergantung di Kawasan GOR Muara Enim
hendra·2 jam yang lalu -
NEWS VIDEOPuan Maharani Minta Mitigasi Bencana Diperkuat Usai Banjir Bandang Terjang Solok
Fadli Tara·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan