Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Dokter Hewan: Hantavirus Cermin Buruknya Sanitasi Lingkungan

Dokter hewan sebut Hantavirus jadi cermin buruknya sanitasi lingkungan dan lemahnya pengelolaan sampah serta tikus.

Seekor tikus yang sedang bersembunyi di balik APAR dalam ruangan Media Center Pemprov Sumsel, Rabu (13/5/2026). (foto: tia/nusantaraterkini.co)
Seekor tikus yang sedang bersembunyi di balik APAR dalam ruangan Media Center Pemprov Sumsel, Rabu (13/5/2026). (foto: tia/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi , Dr drh Jafrizal menyampaikan jika kemunculan ancaman merupakan cermin dari buruknya perlakuan manusia terhadap . Hal kmi juga sebavak ndikator adanya persoalan tata kelola sanitasi yang belum optimal.

Penyakit ini ditularkan melalui paparan urine, air liur, hingga kotoran yang mengering dan terhirup manusia, terutama di area dengan pengelolaan kebersihan yang lemah seperti pasar lembab, drainase kotor, dan gudang pangan terbuka.

"Hantavirus tidak boleh dipahami semata sebagai persoalan medis manusia, melainkan persoalan ekosistem yang membutuhkan keterlibatan seluruh sektor melalui pendekatan ," ujar Dokter Jafrizal, Kamis (14/5/2026).

Jafrizal menjelaskan jika populasi rodensia atau tidak akan berkembang pesat tanpa ketersediaan ruang hidup ideal yang dipicu oleh penumpukan sampah dan sanitasi buruk.

Dalam perspektif kedokteran hewan, meningkatnya risiko penularan terjadi saat keseimbangan interaksi antara manusia, hewan, dan terganggu. Selain , tikus juga berperan dalam penyebaran penyakit berbahaya lain seperti leptospirosis dan salmonellosis.

"Karena itu, keberadaan tikus sejatinya menjadi indikator adanya persoalan tata kelola lingkungan yang belum optimal," jelasnya.

Menurutnya, penanganan ancaman ini tidak bisa dilakukan secara sektoral oleh satu institusi saja. berperan dalam surveilans medis dan deteksi dini kasus, sementara sektor veteriner memiliki kompetensi dalam investigasi epidemiologi berbasis hewan serta pengendalian faktor risiko hewan pembawa penyakit.

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup bertanggung jawab penuh atas pengelolaan sampah dan drainase di kawasan publik.

" memiliki peran utama dalam surveilans penyakit, deteksi dini kasus, edukasi masyarakat, penanganan pasien, hingga pelaporan epidemiologi. Kewaspadaan dini menjadi sangat penting agar kasus tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa," katanya.

Guna mencegah ancaman Hantavirus meluas, Jafrizal merekomendasikan langkah strategis berupa penguatan surveilans di wilayah padat penduduk dan pasar tradisional, serta pengendalian populasi tikus melalui perbaikan sistem biosekuriti lingkungan.

Ia menegaskan jika pendekatan yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan adalah kebutuhan mutlak dalam menghadapi penyakit zoonosis.

"Dunia kini semakin menyadari bahwa penyakit zoonosis tidak dapat ditangani secara sektoral. Pendekatan One Health menjadi kebutuhan mutlak melalui kolaborasi tenaga kesehatan manusia, , ahli lingkungan, akademisi, pemerintah, dan masyarakat," tegasnya.

Jafrizal mengingatkan jika pencegahan selalu jauh lebih efektif dan murah dibandingkan menangani wabah yang sudah muncul korban jiwa.

Ia mengimbau jika alam telah memberikan tanda-tanda melalui peningkatan populasi hewan pembawa penyakit sebelum wabah benar-benar terjadi.

"Hantavirus bukan sekadar ancaman kesehatan, melainkan cermin bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya sendiri. Ketika sanitasi diabaikan, sampah tidak terkelola, dan populasi rodensia dibiarkan berkembang, maka risiko penyakit akan selalu mengintai," ucap dia. 

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait