Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Venezuela Membara: Angka Kematian Tembus 80 Jiwa Saat Trump dan Rodriguez Saling Ancam ​

Konflik Venezuela-AS memanas usai penangkapan Maduro. Korban tewas tembus 80 jiwa saat Trump dan Delcy Rodriguez saling melontarkan ancaman.

Citra satelit yang menunjukkan kerusakan luas di Fort Tiuna, markas besar angkatan bersenjata Venezuela, setelah serangan udara AS (Foto: Vantor)
Citra satelit yang menunjukkan kerusakan luas di Fort Tiuna, markas besar angkatan bersenjata Venezuela, setelah serangan udara AS (Foto: Vantor)
A A

Nusantaraterkini.co,


-Operasi militer di Caracas yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro menyisakan jejak kehancuran yang memilukan. Hingga Senin (5/1/2026), jumlah korban tewas akibat serangan udara dan kontak senjata dilaporkan telah mencapai 80 orang. Citra satelit mengungkap kerusakan parah di Fort Tiuna, jantung pertahanan militer , yang hancur dihantam bom jet tempur AS pada Sabtu dini hari.

Angka kematian ini diperkirakan akan terus bertambah seiring banyaknya warga sipil dan tentara yang masih dinyatakan hilang di bawah puing-puing bangunan.
​
Di tengah situasi yang mencekam, —yang kini diangkat sebagai Presiden Interim oleh Mahkamah Agung—muncul dengan retorika perlawanan yang sangat tajam. Ia menuduh Washington tidak hanya sedang melakukan pergantian rezim, tetapi juga melancarkan serangan berbasis ideologi tertentu yang melukai kedaulatan bangsa.

Baca Juga : Cilia Flores: Ibu Negara Sekaligus Arsitek di Balik Singgasana Nicolás Maduro
​
“Pemerintah-pemerintah di seluruh dunia terkejut bahwa Republik Bolivarian Venezuela telah menjadi korban dan sasaran serangan seperti ini, yang tidak diragukan lagi memiliki nuansa Zionis,” tegas Rodriguez dalam pidatonya yang disiarkan ke seluruh negeri.

​Pernyataan berani ini langsung memicu kemarahan di Gedung Putih. Presiden AS , yang awalnya menganggap Rodriguez sebagai sosok yang bisa diajak bekerja sama untuk "menjalankan" Venesuela, kini berbalik mengancam. Trump memperingatkan bahwa jika Rodriguez terus melawan, ia akan menanggung konsekuensi yang jauh lebih berat daripada yang dialami Maduro.
​
“Para ekstremis yang mempromosikan agresi bersenjata terhadap negara kami, sejarah dan keadilan akan membuat mereka membayar,” balas Rodriguez, menegaskan bahwa ia tidak akan tunduk pada tekanan AS.

​Dilansir RMOL, kondisi di lapangan semakin tidak terkendali saat ribuan pendukung loyalis turun ke jalan-jalan di Caracas, mengubah suasana duka menjadi demonstrasi nasionalisme yang eksplosif.

Baca Juga : Penangkapan Maduro, Geopolitik, dan Risiko Minyak Global
Meski negara-negara seperti Brasil, Kolombia, dan Cile secara resmi mengecam agresi militer tersebut, sikap Eropa yang terbelah antara mendukung lengsernya Maduro dan mempertanyakan legalitas serangan AS menambah kerumitan sengketa internasional ini. Venesuela kini berada di titik nadir, terjepit di antara yang berdarah dan perebutan kendali politik globa

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru