Suara Rakyat Harus Didengar terkait Penolakan PSN oleh Masyarakat Papua
PSN di Merauke ini sangat luar biasa luasnya. Tentu masyarakat akan sangat terdampak dari pelaksanaan proyek tersebut
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan merespon penolakan masyarakat Merauke, Papua Selatan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dia meminta pemerintah mendengar aspirasi yang disampaikan warga yang langsung terdampak dari proyek tersebut.
PSN di Merauke, Papua Selatan terdiri dari perkebunan tebu dan program cetak sawah. Luas lahan yang digunakan dua proyek itu diperkirakan sekitar 2,29 juga hektare. Bentangannya melintasi 19 distrik dari 22 distrik yang ada di Merauke.
"PSN di Merauke ini sangat luar biasa luasnya.Tentu masyarakat akan sangat terdampak dari pelaksanaan proyek tersebut," terang dia, Rabu (19/3/2025).
Maka, kata Daniel, tidak heran jika banyak masyarakat Papua yang melakukan penolakan.
Menurutnya, penolakan itu telah dilakukan dengan cara-cara yang demokratis, seperti acara Konsolidasi Solidaritas Merauke yang berlangsung pada 11-14 Maret 2025 di Kota Merauke.
Selama empat hari itu, sekitar 250 masyarakat adat, masyarakat lokal terdampak PSN, dan berbagai organisasi masyarakat sipil berkumpul untuk berbagi cerita tentang kejahatan negara korporasi dan kekerasan aparat militer dan polisi sebagai pengalaman kolektif.
"Suara mereka harus didengar. Pemerintah tidak boleh tutup mata dengan penolakan tersebut," beber legislator asal Dapil Kalimantan Barat I itu.
Tentu, kata Daniel, masyarakat memiliki alasan yang jelas menolak PSN di Merauke, Papua Selatan yang sangat luas itu. Di antara alasannya adalah proyek itu mengusur tanah adat masyarakat. Tanah adat sudah menjadi tempat tinggal mereka, dan tempat mereka mencari makan. Semua aktivitas mereka bergantung dengan tanah adat.
"Hutan dan tanah adat adalah sumber kehidupan masyarakat di Papua. Jika tanah itu dirampas, maka sama saja kehidupan mereka dihancurkan," terangnya.
Proyek itu juga dinilai merusak hutan dan lingkungan. Jika hutan ditebang dan diganti lahan sawah atau kebun, maka akan banyak habitat hewan yang rusak. Ekosistem alam akan hancur. Tentu, itu akan menjadi bencana bagi manusia dan hewan.
Untuk itulah, lanjut Daniel, pemerintah harus mendengarkan suara kritis dari masyarakat dan mengakomodasi apa yang menjadi tuntutan masyarakat yang terdampak dari proyek strategis itu.
"Jika suara rakyat tidak didengar, maka gelombang protes dan penolakan akan terus disuarakan," tandas Ketua DPP PKB itu.
(cw1/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NASIONALDugaan Pungli Terkuak di Rutan Pondok Bambu, DPR Desak Kemenimipas Telusuri Aliran Uang
Rozie Winata·42 menit yang lalu -
NASIONALSidak Tanjung Priok, Firman Soebagyo Warning Barantin Tak Jadi Alat Kepentingan Importir
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KRIMINALBayi Laki-Laki Ditelantarkan di Musala, Polres Muratara Amankan Dua Orang di Nibung
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALPresiden Prabowo: Komunikasi Pemerintah Harus Jadi Instrumen Persatuan Nasional
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SEPAKBOLAResmi Dijual! Ini Daftar Harga dan Cara Beli Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
KESEHATANStudi Ungkap Hubungan Kebugaran Anak dengan Risiko Depresi di Masa Dewasa
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
KOTA MEDANPemko Medan Kembangkan Layanan Publik Berbasis WhatsApp-AI
Herman Saleh Harahap·10 jam yang lalu -
SEPAKBOLALiga 2: Sumsel United Raih Poin Penuh di Kandang Persiraja Banda Aceh 2-1
Herman Saleh Harahap·11 jam yang lalu -
SUMUTPemprov Sumut dan DPR RI Komitmen Tingkatkan Pelayanan Haji 2027
Herman Saleh Harahap·11 jam yang lalu -
KESEHATANMuara Enim Jadi Lokasi Uji Coba Reformasi JKN Kemenkes
Herman Saleh Harahap·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan