Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed Jadi Tekanan
Rupiah diperkirakan melemah ke Rp17.750 per dolar AS dipicu konflik Timur Tengah, harga minyak, dan kebijakan AS.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Mata uang Garuda diproyeksi berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya tekanan sentimen global.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi kondisi geopolitik internasional, terutama memanasnya situasi di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Pergerakan rupiah masih berpotensi fluktuatif, namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp17.700 sampai Rp17.750 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Rabu (20/5/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (19/5/2026), rupiah tercatat ditutup melemah 35 poin ke level Rp17.703 per dolar AS. Bahkan, mata uang domestik sempat tertekan hingga 70 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.680 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pasar global saat ini dibayangi kekhawatiran meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menunda rencana aksi militer terhadap Iran guna membuka peluang negosiasi terkait konflik kawasan dan program nuklir Teheran.
Pernyataan tersebut dinilai memberi sinyal adanya upaya diplomasi, meski pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas energi dunia.
Ketegangan di kawasan juga berdampak pada aktivitas di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global yang mengangkut hampir seperlima pasokan minyak dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terganggunya suplai energi internasional.
Di sisi lain, negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat dikabarkan masih berlangsung lambat. Seorang pejabat Pakistan disebut telah menyampaikan proposal baru guna menjembatani komunikasi kedua negara.
Sementara itu, laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut Washington dikabarkan membuka peluang pencabutan sanksi ekspor minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung. Namun, informasi tersebut langsung dibantah oleh pejabat Amerika Serikat.
Faktor lain yang turut menjadi perhatian pasar adalah keputusan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari bagi negara-negara tertentu agar tetap dapat membeli minyak Rusia melalui jalur laut.
Kondisi global tersebut diperkirakan masih akan memberi tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek, terutama di tengah tingginya sensitivitas pasar terhadap isu geopolitik dan pergerakan harga energi dunia.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
-
-
EKONOMITiga Perusahaan Otomotif Mengakui Dugaan Diskriminasi KPPU
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
KESEHATANKampanye Germas Ceria, Kahiyang Ajak Siswa Hidup Sehat
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
KRIMINALPolda Sumsel Tangkap Tersangka Pembobol Rumah Guru Agama
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
-
KOTA MEDANPemko Medan Raih Penghargaan TP2DD Terbaik Se-Sumatera
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
SUMUTPemprov Sumut Kebut Pembangunan Infrastruktur dan Realisasi APBD 2026
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
KESEHATANRico Waas Tegaskan Pembangunan Puskesmas Tuntungan Harus Rampung Tepat Waktu
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
KRIMINALKasus Penganiayaan Tokoh Pers di Sidimpuan: Polisi Reka 30 Adegan
Herman Saleh Harahap·7 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan