Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.850-Rp17.950, Pasar Tunggu Data Cadangan Devisa dan Nonfarm Payroll AS

Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS. Pasar menanti data cadangan devisa RI dan nonfarm payroll AS.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Mata uang Garuda diproyeksikan berada di rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring sikap pelaku pasar yang masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri.

Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (6/8/2026), rupiah berhasil mengakhiri sesi dengan penguatan tipis sekitar 0,06 persen ke level Rp17.923 per . Kenaikan tersebut didukung melemahnya dolar AS secara terbatas serta membaiknya sentimen terhadap aset keuangan domestik.

Meski demikian, penguatan rupiah dinilai belum cukup kuat. Sebagian besar investor memilih mengambil posisi hati-hati menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi yang diperkirakan akan memengaruhi arah global dalam jangka pendek.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Baht Thailand mencatat penguatan terbesar terhadap dengan kenaikan sekitar 0,21 persen. Dolar Taiwan naik 0,18 persen, disusul ringgit Malaysia sebesar 0,09 persen, sementara turut menguat meski dalam persentase yang relatif terbatas.

Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun sekitar 0,47 persen terhadap dolar AS. Dolar Singapura, peso Filipina, rupee India, dan yuan China juga berada di zona merah dengan pelemahan yang tidak terlalu besar.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen positif bagi rupiah berasal dari meredanya kekhawatiran terhadap pasar energi global. Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak dunia sehingga mengurangi tekanan bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Selain faktor tersebut, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 yang tetap solid turut memperkuat optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi nasional.

Namun, peluang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Investor memilih menunggu publikasi data Indonesia yang akan menjadi salah satu indikator kekuatan sektor eksternal dan kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar ketika terjadi gejolak di pasar.

Dari sisi global, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan geopolitik serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pernyataan Presiden Donald Trump mengenai peluang tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz turut menjadi salah satu faktor yang diamati investor.

Sementara itu, ekspektasi terhadap langkah masih menjadi perhatian utama. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi sehingga peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September tetap terbuka.

Gubernur Lisa Cook juga menyatakan tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi masih tinggi. Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly, menilai bank sentral masih membutuhkan tambahan data ekonomi sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.

Secara keseluruhan, perdagangan rupiah hari ini diperkirakan masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Fundamental yang tetap solid menjadi penopang, namun ruang penguatan dinilai terbatas karena pasar masih menanti rilis data cadangan devisa Indonesia serta laporan Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan arah pergerakan dolar AS.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait