Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Awali Perdagangan Melemah, Dolar AS Menyentuh Rp16.810

Rupiah dibuka melemah ke Rp16.810 per dolar AS. Penguatan dolar dan penantian data NFP AS menjadi sentimen utama pasar.

Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – membuka perdagangan akhir pekan dengan tekanan terhadap Amerika Serikat (AS) pada Jumat (9/1/2026). Mengacu pada data Refinitiv, dibuka di posisi Rp16.810 per dolar AS, melemah 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (8/1/2026), tercatat sudah lebih dulu ditutup melemah 0,09 persen di level Rp16.785 per AS.

Di saat yang sama, hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS () terpantau bergerak relatif stabil di kisaran 98,94. Pada perdagangan sebelumnya, indeks dolar menguat 0,25 persen dan ditutup di area 98,93.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini masih dibayangi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global. Kondisi ini mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar AS, yang pada gilirannya menekan negara berkembang, termasuk rupiah.

Penguatan dolar AS didorong sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Non-Farm Payrolls (NFP). Data tersebut dipandang krusial untuk menilai ketahanan pasar tenaga kerja AS, terutama setelah adanya gangguan aktivitas pemerintahan pada periode sebelumnya.

Selain NFP, investor juga mencermati perkembangan klaim pengangguran mingguan yang tercatat meningkat tipis, serta pergerakan tingkat pengangguran yang berpotensi menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter ke depan.

Di sisi lain, pasar global turut mewaspadai potensi tambahan sentimen dari putusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan presiden dalam menerapkan kebijakan tarif berbasis status darurat. Putusan ini dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan perdagangan AS dan menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.

Seiring dengan itu, ekspektasi pasar menunjukkan peluang yang semakin besar bagi bank sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan FOMC akhir Januari. Prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama tersebut turut menopang kekuatan dolar AS dan berpotensi melanjutkan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait