Pemkab Samosir Enggan Bicara Karhutla, Akademisi: Padahal Bisa jadi Kampanye Pelestarian Lingkungan
Dulu semua bukit tampak hijau dari atas, sekarang malah hitam, terbakar. Sayang sekali
Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kawasan Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut), menjadi sorotan publik.
Di tengah perhatian tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) hingga saat ini belum juga bersuara.
Nusantaraterkini.co telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom. Namun, hingga saat ini Vandiko belum memberikan tanggapan.
BACA JUGA: Kebakaran Hutan Kembali Terjadi di Samosir, Kali Ini di Kecamatan Sitio-tio
Upaya konfirmasi yang dikirim melalui pesan singkat dan menghubungi lewat sambungan telepon telah dilakukan. Namun, tanggapan dari pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu masih sama.
Padahal, perkiraan wilayah hutan yang terbakar, dihitung sejak Selasa (1/7/2025) hingga Kamis (3/7/2025), telah mencapai 125 hektare. Kondisi itupun menjadikan sejumlah wisatawan kecewa saat berlibur di Samosir.
Salah satunya, wisatawan asal Kabupaten Mandailing Natal, Efrida Suryani, yang mengaku kecewa melihat panorama yang sebelumnya menyuguhkan pemandangan indah, yang sekarang justru sebaliknya.
“Saya sudah tiga kali ke sini. Dulu semua bukit tampak hijau dari atas, sekarang malah hitam, terbakar. Sayang sekali,” katanya, saat ditemui di pelataran Menara Pandang Tele, Sabtu (5/7/2025).
Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Ansor mengatakan, karhutla bisa menjadi ancaman serius bagi status UNESCO Global Geopark Kaldera Toba. Padahal, kata dia, pemerintah daerah dapat menjadikan status tersebut sebagai alat kampanye pelestarian lingkungan.
“Karhutla adalah tantangan sosial-ekologis yang kompleks. Samosir butuh pendekatan holistik, bukan sekadar spanduk larangan dan seragam pemadam,” saat dihubungi Nusantaraterkini.co, Sabtu (5/7/2025).
BACA JUGA: DLHK Sumut Menduga Kebakaran Hutan di Samosir karena Pengguna Jalan Buang Puntung Rokok Sembarangan
Untuk persoalan itu, lanjutnya, pendekatan Antropologis perlu digunakan untuk menjawab persoalan tersebut. Jika hanya menggunakan perangkat kepolisian dan instrumen pemerintahan tidak akan efektif. Perlu edukasi yang berbasis budaya lokal.
Diketahui, Karhutla ini mulai terjadi sejak Selasa (1/7/2025) hingga Kamis (3/7/2025). Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumut mengklaim jika seluruh api telah padam sejak Jumat (4/7/2025) kemarin. Luas wilayah yang terdampak Karhutla, sedikitnya mencapai 100 hektare lebih.
"Sampai dengan saat ini di lokasi kobaran api sudah tidak ada, melainkan hanya kepulan asap saja yang berasal dari bara api," ujar Kepala Bidang Perlindungan, Penegakan Hukum, dan Peningkatan Kapasitas DLHK Sumut, Zainuddin Harahap, dihubungi terpisah.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
-
NEWSVideo WBP Diduga Pesta Sabu Viral, Lapas Tebingtinggi Dirazia: Tim Gabungan Temukan Sajam Hingga Handphone
hendra·4 jam yang lalu -
SUMSELMenko Pangan Tinjau Pembakaran Perdana PSEL Palembang, Sampah Keramasan Mulai Diolah Jadi Listrik
hendra·4 jam yang lalu -
-
NASIONALTrump dan Xi Redakan Ketegangan, Dunia Menatap Babak Baru Hubungan AS-Tiongkok
hendra·5 jam yang lalu -
NEWSSurat Advokat Jadi Objek Perkara Pidana, Hasrul Benny: Ini Kriminalisasi Produk Advokat
hendra·6 jam yang lalu -
KRIMINALPolisi Gagalkan Pengiriman 296 Cartridge Etomidate dari Malaysia ke Medan, Nilainya Rp888 Juta
hendra·7 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaster Mewah Lapas Cibinong Diusut, Menteri Imipas Siapkan Sanksi hingga Pencopotan
hendra·7 jam yang lalu -
KRIMINALBea Cukai Gagalkan Peredaran 2,3 Juta Batang Rokok Ilegal di Kutai Kartanegara
hendra·7 jam yang lalu -
NEWS287,2 Ton Jagung Berhasil Dikirim Polres Binjai ke Bulog Medan Sejak Program Ketahanan Pangan Polri Diluncurkan
hendra·8 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan