Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Neraca Perdagangan Sumut Surplus US$685,23 Juta, Dipicu Lonjakan Ekspor 46,29 Persen ​

Neraca perdagangan Sumut April 2026 surplus US$685,23 juta, didorong lonjakan ekspor 46,29 persen dan kinerja industri pengolahan.

Tabel nilai ekpor Sumatera Utara berdasarkan kelompok barang.(foto: bps sumut)
Tabel nilai ekpor Sumatera Utara berdasarkan kelompok barang.(foto: bps sumut)
A A

Nusantaraterkini.coMEDAN — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi merilis neraca perdagangan Sumatera Utara (Sumut) surplus sebesar US$685,23 juta pada . Angka ini mengalami lonjakan signifikan sebesar 60,61 persen jika dibandingkan dengan capaian April 2025 yang bernilai US$426,64 juta. 

"Sementara itu, selama periode Januari hingga April 2026, akumulasi luar negeri Sumatera Utara telah menembus US$2.380,62 juta," ujar Kepala , seperti dikutip dari Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu (3/6/2026).

Dipaparkannya, nilai ekspor Sumatera Utara pada tercatat mencapai US$1.272,68 juta, melesat 46,29 persen dibandingkan April 2025 yang hanya sebesar US$869,97 juta. Secara kumulatif (Januari–April 2026), total ekspor melalui pelabuhan muat di Sumatera Utara mencapai US$4.241,33 juta, tumbuh 12,13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Dilihat dari strukturnya, sektor industri menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi masif sebesar 94,30 persen terhadap total ekspor Januari–April 2026. Sektor ini tumbuh 14,59 persen atau naik sebesar US$509,25 juta. Sebaliknya, sektor pertanian mengalami kontraksi sebesar 17,35 persen (turun US$50,67 juta) dengan kontribusi yang menyusut menjadi 5,69 persen. 

​Berdasarkan golongan barang (HS 2 digit) sepanjang Januari–April 2026, peningkatan terbesar berasal dari golongan lemak & minyak hewan/nabati naik US$181,36 juta (12,18%), disusul berbagai produk kimia yang naik US$162,21 juta (28,15%).

Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada golongan kopi, teh, dan rempah-rempah merosot US$47,95 juta (-23,74%), diikuti karet dan barang dari karet yang turun US$8,91 juta (-9,74%).

masih menjadi pasar tujuan ekspor terbesar bagi Sumatera Utara dengan nilai mencapai US$738,42 juta. Posisi berikutnya ditempati oleh sebesar US$585,07 juta dan sebesar US$297,98 juta. 

:Integrasi ketiga negara mitra ini menyumbang 38,23 persen dari total ekspor daerah," lanjut Asim.

Impor Naik 8,29 Persen

​Di sisi lain, nilai impor Sumatera Utara atas dasar Cost, Insurance, and Freight (CIF) pada April 2026 bertengger di angka US$587,45 Juta. Secara kumulatif (Januari–April 2026), total nilai impor mencapai US$1.860,71 juta, atau meningkat 8,29 persen dari periode yang sama tahun 2025 yang sebesar US$1.718,19 juta. 

Mayoritas komoditas yang didatangkan ke Sumatera Utara merupakan barang produktif. Impor bahan baku/penolong mendominasi dengan pangsa sebesar 80,33 persen (US$1.494,68 juta), disusul barang konsumsi sebesar 12,29 persen (US$228,64 juta), dan barang modal sebesar 7,38 persen (US$137,39 juta). 

​"Kenaikan nilai impor tertinggi pada awal tahun ini dicatatkan oleh golongan dengan pertumbuhan sebesar US$70,72 juta (24,34%). Sementara itu, penurunan impor terdalam terjadi pada golongan bahan kimia anorganik yang anjlok sebesar US$58,88 juta (-51,66%)," sebut Asim.

Ditambahkannya, Tiongkok kembali memimpin sebagai negara pemasok barang impor terbesar ke Sumatera Utara dengan nilai US$489,69 juta (pangsa 26,32%). menyusul di urutan kedua dengan nilai US$285,93 juta (15,37%), dan di peringkat ketiga dengan nilai US$227,07 juta (12,20%). 

AS Penyumbang Surplus Terbesar

Meskipun Tiongkok merupakan pasar ekspor terbesar, kontribusi surplus terbesar bagi Sumatera Utara sepanjang Januari–April 2026 justru disumbang oleh Amerika Serikat dengan selisih keuntungan mencapai US$470,49 juta. Surplus terbesar berikutnya diraih dari perdagangan dengan Tiongkok (US$248,73 juta) dan India (US$217,92 juta). 

​Sebaliknya, Sumatera Utara harus menelan defisit terdalam dengan sebesar US$250,36 juta, disusul yang mengalami defisit sebesar US$83,43 juta.

"Defisit ini akibat tingginya angka impor dari kedua negara tetangga tersebut," pungkas Asim.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru