Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Menteri Perang AS Desak Tambahan Dana Perang Iran, Publik Tolak Konflik

Menteri Perang AS minta tambahan dana perang Iran di tengah meningkatnya sentimen penolakan publik.

Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth berbicara dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 6 April 2026. (Foto: Xinhua/Li Yuanqing)
Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth berbicara dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 6 April 2026. (Foto: Xinhua/Li Yuanqing)
A A

Nusantaraterkini.co, WASHINGTON - Menteri Perang (AS) pada Selasa (21/7/2026) meminta lebih banyak dana untuk perang melawan Iran dalam sidang Senat, di saat sebuah jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan mayoritas warga Amerika meyakini perang tersebut tidak layak diperjuangkan.

Pendanaan tambahan untuk perang dengan Iran mendesak dan diperlukan, kata Hegseth dalam pidatonya di sidang Komite Alokasi Anggaran Senat.

"Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan yang kritis," ujar Hegseth, yang pidato pembukaannya beberapa kali disela oleh para pengunjuk rasa, dengan sebagian di antara mereka memegang papan bertuliskan "Tiadakan Perang di Iran" (No War on Iran).

Dalam sidang tersebut, Hegseth mengatakan perang AS melawan Iran telah menelan biaya 37,5 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.909) sejauh ini, naik dari perkiraan 29 miliar dolar AS pada Mei.

Pernyataan Hegseth itu disampaikan ketika para anggota parlemen Partai Republik berupaya mendapatkan persetujuan kongres untuk anggaran pertahanan yang diusulkan Presiden AS Donald Trump sebesar 1,5 triliun dolar AS, bahkan ketika semakin banyak jajak pendapat menunjukkan kian besarnya penolakan publik terhadap perang melawan Iran.

Sebuah jajak pendapat Washington Post-Ipsos baru-baru ini menunjukkan bahwa 68 persen warga Amerika meyakini perang tersebut tidak layak diperjuangkan.

Washington Post melaporkan, penilaian terhadap lebih buruk dibandingkan jajak pendapat Post-ABC News mana pun selama Perang Irak yang panjang dan setara buruknya dengan peringkat perang Afghanistan, yang diadakan pada Juli 2013, ketika 67 persen responden mengatakan bahwa konflik tersebut tidak layak diperjuangkan.

Sebuah jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang dirilis pada Juni menunjukkan bahwa 45 persen pemilih mengatakan AS berada dalam posisi yang lebih lemah di dunia sebagai akibat dari perang AS melawan Iran. 

(*/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua 

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru