Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Lumpuhnya Selat Hormuz Kini Incar Stok Pupuk Dunia, Ancaman Ketahanan Pangan

Gangguan Selat Hormuz picu krisis pupuk global, harga urea melonjak dan ancam ketahanan pangan dunia.

Ilustrasi kapal berlayar di Selat Hormuz.(foto:rmol)
Ilustrasi kapal berlayar di Selat Hormuz.(foto:rmol)
A A

Nusantaraterkini.co, TEHERAN – Dunia selama ini terpaku pada gejolak harga minyak dan gas akibat perang . Namun, ada ancaman yang jauh lebih sunyi tapi mematikan kini membayangi lumpuhnya pasokan . Terhentinya arus pelayaran di Selat Hormuz bukan hanya urusan bahan bakar, melainkan urat nadi bagi sepertiga perdagangan pupuk laut dunia yang kini nyaris terhenti total.

​Konflik yang kian memanas di kawasan tersebut telah memicu lonjakan harga yang merupakan komponen utama pupuk nitrogen.Jika sebelum perang harga urea berkisar 400-490 Dolar AS per metrik ton, kini angkanya telah meroket hingga menembus 700 Dolar AS. Kenaikan drastis ini menjadi sinyal bahaya bagi sektor pertanian di berbagai belahan bumi.

​Analis dari CRU, Chris Lawson, memperingatkan bahwa sekitar 30 persen pasokan ekspor pupuk dunia praktis lenyap dari pasar karena tidak bisa keluar dari pelabuhan di Arab Saudi, Qatar, hingga .

​“Dengan terputusnya Selat Hormuz, sebagian besar perdagangan global tidak dapat berjalan. Jika petani tidak mendapatkan yang mereka butuhkan, hasil panen pasti akan anjlok dalam beberapa bulan ke depan,” tegas Lawson, seperti dilansir RMOL, Kamis (26/3/2026).

​Berbeda dengan jenis pupuk lain, nitrogen atau urea adalah komponen "wajib" yang tidak bisa ditunda penggunaannya. Tanpa asupan nitrogen yang cukup setiap tahunnya, produktivitas komoditas pangan pokok seperti jagung, gandum, hingga sayuran akan menurun signifikan. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan China yang mulai membatasi ekspor pupuk demi mengamankan kebutuhan domestik mereka sendiri.

​Efek domino ini diprediksi akan menghantam keras negara-negara berkembang di Afrika dan Asia Selatan yang sangat bergantung pada impor. Penurunan hasil panen, meski dalam skala kecil, sudah cukup untuk memicu yang tak terkendali.

​Wilayah-wilayah dengan daya beli rendah akan menjadi korban pertama dalam perebutan pasokan global yang kian menipis. Dalam situasi ini, krisis di Selat Hormuz bukan lagi sekadar isu geopolitik Timur Tengah, melainkan ancaman nyata terhadap isi piring masyarakat dunia, termasuk risiko kenaikan harga pangan di pasar-pasar tradisional tanah air.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru