Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Klaim Tumpang Tindih di Laut China Selatan Butuh Solusi Konkret

Tumpang tindih klaim ini menambah tensi antarnegara, yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut

Podcast bincang Hubungan Internasional di Nusantaraterkini.co, Sabtu (16/11/2024). (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)
Podcast bincang Hubungan Internasional di Nusantaraterkini.co, Sabtu (16/11/2024). (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)
A A

, MEDAN - Sengketa klaim tumpang tindih atau overclaim di terus menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia.

Kawasan strategis yang kaya akan sumber daya alam ini telah menjadi ajang perselisihan antarnegara, mulai dari China hingga negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam. 

Namun, di tengah ketegangan tersebut, Menteri Pertahanan mengusung pendekatan berbeda dengan mengedepankan diplomasi aktif yang menekankan stabilitas kawasan.

"Pendekatan Prabowo sangat jelas memprioritaskan kerja sama dan solusi berbasis hukum internasional," kata pengamat politik internasional di Podcast Nusantaraterkini.co, Sabtu (16/11/2024).

Salah satu area konflik yang menonjol adalah Laut Utara, di mana Indonesia telah mengklaim wilayah tersebut berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS). Namun, klaim ini sering diganggu oleh China yang menyatakan bahwa kawasan itu termasuk dalam wilayah traditional fishing ground mereka.  

"Secara hukum internasional, Indonesia sudah jelas memiliki hak atas sumber daya di kawasan tersebut. Tapi, ini menambah tensi antarnegara, yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut," ujar Teguh.  

Selain Utara, Kepulauan Paracel dan Spratly juga menjadi pusat konflik dengan klaim tumpang tindih dari Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Teguh menilai, situasi ini tidak akan selesai tanpa adanya pendekatan diplomatik yang konkret.

Di tengah kompleksitas konflik, terus mendorong pentingnya dialog dan kerja sama. Baru-baru ini, ia mengunjungi Beijing untuk memperkuat hubungan diplomasi dengan China, sambil tetap menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.  

"Prabowo tidak hanya membangun komunikasi dengan China, tetapi juga menjalin solidaritas dengan negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan Filipina. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga keseimbangan di kawasan," jelasnya.

Menurut Teguh, tawaran Prabowo untuk mengelola wilayah sengketa secara bersama-sama dengan pendekatan win-win solution adalah langkah konkret yang patut diapresiasi.

"Daripada saling klaim, pendekatan berbasis kerja sama akan memberikan manfaat lebih besar bagi semua pihak," tambahnya.

Meskipun upaya diplomasi terus digencarkan, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah pembangunan pulau buatan oleh China yang disertai dengan peningkatan kehadiran militer. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan negara tetangga.  

"Jika tidak ada pendekatan yang serius, situasi ini dapat memperburuk konflik. Namun, Indonesia melalui diplomasi aktif dapat menjadi jembatan dialog antara negara-negara yang bersengketa," katanya.  

Teguh juga menyebut pentingnya mempercepat pembahasan Kode Etik di (COC) oleh ASEAN agar ada kesepakatan yang mengikat secara hukum.

Dengan pendekatan diplomasi aktif yang ditunjukkan oleh Prabowo, Teguh optimistis bahwa Indonesia dapat memainkan peran penting dalam menciptakan stabilitas di Laut China Selatan.

"Kita tidak hanya bicara tentang menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun kawasan yang damai dan saling menguntungkan. Dengan peran Prabowo, Indonesia menunjukkan bahwa kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain utama dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan kawasan," pungkasnya.

(Cw9/)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru