Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Ditutup Menguat di Tengah Sinyal Pelemahan Ekonomi

IHSG naik 0,92% meski PMI manufaktur turun, inflasi naik, rupiah melemah, dan neraca dagang defisit. Simak faktor penopang pasar.

Bagikan:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Gabungan () berhasil mengakhiri perdagangan Rabu (1/7/2026) di zona hijau dengan kenaikan 0,92 persen ke level 5.695,12. Penguatan ini cukup menarik perhatian karena terjadi di tengah sejumlah indikator ekonomi nasional yang justru menunjukkan pelemahan.

Selama sesi perdagangan, bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup menguat. Kinerja positif tersebut terutama didorong oleh -saham sektor energi yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,61 persen. Sebaliknya, sektor transportasi menjadi satu-satunya sektor yang mengalami tekanan paling besar dengan penurunan 0,91 persen.

Di balik penguatan indeks, pasar sebenarnya dihadapkan pada berbagai sentimen negatif dari dalam negeri. Salah satunya adalah turunnya Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia ke level 46,9 pada Juni 2026, dari sebelumnya 50 pada Mei. Angka tersebut menandakan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase kontraksi.

Tekanan juga datang dari sisi . Inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat naik menjadi 3,34 persen dari 3,08 persen pada bulan sebelumnya. Realisasi tersebut bahkan melampaui perkiraan pasar yang berada di level 3,2 persen.

Dari sektor eksternal, Indonesia juga mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama yang terjadi sejak April 2020 dan menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan melemahnya kinerja perdagangan luar negeri.

Sementara itu, nilai tukar turut berada dalam tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,25 persen ke posisi Rp17.952 per dolar Amerika Serikat, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Meski berbagai data ekonomi menunjukkan perlambatan, pelaku pasar masih melihat peluang stabilisasi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

dalam risetnya menyebut indikator teknikal Stochastic RSI mulai mendekati area oversold, sedangkan indikator MACD berpotensi membentuk pola death cross. Kondisi tersebut membuat IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif pada kisaran 5.600 hingga 5.800.

"IHSG secara teknikal menunjukkan bahwa Stochastic RSI mendekati area oversold, namun MACD berpotensi mengalami death cross. Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang berkonsolidasi pada kisaran 5.600-5.800," tulis dalam risetnya.

Di sisi lain, menilai tekanan koreksi belum sepenuhnya berakhir. Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), IHSG diperkirakan masih berpotensi menguji area support di kisaran 5.472 hingga 5.540.

Untuk strategi perdagangan jangka pendek, MNC Sekuritas merekomendasikan saham , , , dan sebagai pilihan yang layak dicermati investor.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru