Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Ekspor Sumut Februari 2026: Kelapa Sawit Kian Dominan di Tengah Terpuruknya Komoditas Kopi dan Rempah

Badan Pusat Statistik catat ekspor Sumut Februari 2026 didominasi sawit, sementara kopi dan rempah turun tajam.

Tabel ekspor Sumatera Utara berdasarkan golongan barang (HS).(foto: bps sumut)
Tabel ekspor Sumatera Utara berdasarkan golongan barang (HS).(foto: bps sumut)
A A

Nusantaraterkini.coMEDAN – Performa ekspor Provinsi Sumatera Utara pada Februari 2026 menampilkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (didominasi ) semakin memperkokoh dominasinya, namun di sisi lain, sejumlah komoditas unggulan tradisional seperti kopi dan justru mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup tajam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik () Sumatera Utara, total nilai ekspor provinsi ini pada Februari 2026 mencapai US$1,09 miliar. Pertumbuhan ini sangat bergantung pada sektor lemak dan minyak hewan/nabati yang menyumbang US$897,83 juta selama dua bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 16,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menguasai 42,72 persen pangsa pasar secara keseluruhan.

Namun, di balik kegemilangan sektor sawit, laporan mencatat adanya "lampu kuning" pada beberapa komoditas lainnya. Penurunan paling drastis dialami oleh golongan barang kopi, teh, dan

"Komoditas yang menjadi ikon perkebunan Sumut ini mengalami kemerosotan nilai ekspor hingga 36,03 persen dibandingkan Januari-Februari tahun lalu, atau berkurang sebesar US$38,40 juta," ujar Kepala BPS Sumut Asim Saputra seperti dikutip dari Berita Resmi Statistik (BRS), Jumat (3/4/2026).

​Selain kopi dan rempah, lanjutnya, tren negatif juga membayangi komoditas dan barang dari karet. Sektor yang sempat menjadi primadona ini mencatatkan penurunan nilai ekspor sebesar US11,85 juta atau menyusut 6,29 persen. Kondisi serupa terjadi pada golongan tembakau yang juga mengalami kontraksi nilai sebesar US8,08 juta (14,48 persen).

​Dominasi yang terlalu kuat pada satu komoditas ini menjadi catatan penting bagi struktur ekonomi daerah. Meskipun secara total nilai naik 9,12 persen dibandingkan Februari 2025, ketergantungan yang tinggi pada membuat neraca perdagangan sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak nabati dunia, terutama saat komoditas penyeimbang seperti kopi dan sedang mengalami kelesuan pasar. 

Tiongkok masih menjadi penyelamat utama dengan menyerap ekspor terbesar senilai US$328,14 juta, diikuti Amerika Serikat dan India.

Sementara itu, untuk mendukung keberlangsungan industri pengolahan di dalam negeri, Sumut juga tetap melakukan impor besar-besaran pada kategori bahan baku dan penolong yang mencapai 80,40 persen dari total nilai impor.

"Situasi ini menunjukkan bahwa meski surplus perdagangan tetap terjaga di angka US$684,86 juta, tantangan diversifikasi produk ekspor menjadi mendesak, agar ekonomi Sumatera Utara tidak hanya bertumpu pada satu kekuatan tunggal di tengah tren penurunan komoditas unggulan lainnya," pungkas Asim.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru