Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Analis Pasar: IHSG Bakal Bergerak Sideways Cenderung Melemah Pagi Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,67% atau terpangkas 53,11 poin ke level 7.890,71 di pasar spot.

Bagikan:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,67% atau terpangkas 53,11 poin ke level 7.890,71 di pasar spot.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,67% atau terpangkas 53,11 poin ke level 7.890,71 di pasar spot.
A A

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (21/8/2025) () ditutup melemah 0,67% atau terpangkas 53,11 poin ke level 7.890,71 di pasar spot. 

Baca Juga : IHSG Melemah 7,33 Poin Berada di Level 7.891,04 di Perdagangan Sesi I Selasa (19/8/2025)

Secara sektoral, sektor energi tampak terperosok 2,40%, sedangkan sektor industrial menghijau dengan penguatan 1,40%.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pelemahan saat ini dibebani oleh sektor energi dan keuangan. Di sisi lain, emiten-emiten konglomerasi juga turut menahan laju IHSG.

Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Diproyeksikan Bergerak Mixed dalam Kisaran 7.725 - 8.150.

Sementara pada perdagangan Jumat (22/8/2025), Herditya memprediksi IHSG masih berpeluang menguat dalam jangka pendek dengan level support 7.848 dan resistance 7.911. 

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, koreksi IHSG hari ini masih disebabkan aksi profit taking terhadap sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar.

Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Bakal Bergerak di Level Support 7.800 dan Resistance 8.000 Hari Ini

"Secara teknikal, meskipun secara menengah panjang tren IHSG masih bullish, namun beberapa indikator menunjukkan potensi koreksi jangka pendek," ujar Alrich.

Dus, Alrich memprediksi IHSG bakal bergerak sideways cenderung melemah dalam rentang support 7.800 dan resistance 7.930.

Baca Juga : IHSG Terbang Tinggi 4,84% Dalam Sepekan Terakhir Terkerek Faktor Fundamental Ekonomi Indonesia

Sentimen pengiringnya, lanjut Alrich, ialah defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II tahun 2025 yang mencapai US$ 3 miliar, naik dari posisi defisit sebesar US$ 228 juta di kuartal I dan relatif sama dibandingkan dengan kuartal II tahun sebelumnya.

Hal itu kata Alrich menandai defisit neraca transaksi berjalan selama sembilan triwulan berturut-turut dan merupakan defisit terbesar sejak kuartal II tahun 2024, setara dengan 0,8% produk domestik bruto (PDB).

Adapun, Bank Indonesia menargetkan defisit transaksi berjalan sekitar 0,5%-1,3% PDB pada tahun ini. 

Selain itu, investor menurut Alrich juga akan mencermati data uang beredar M2 bulan Juli yang diperkirakan naik 6,7% YoY dan lebih tinggi dari pertumbuhan 6,5% YoY di bulan Juni.

"Akselerasi jumlah uang beredar M2 menandakan aktivitas ekonomi dan likuiditas mulai meningkat, yang disinyalir salah satunya berkat pemangkasan BI rate (suku bunga acuan) serta adanya bansos dari pemerintah," urai Alrich.

Dari Amerika Serikat, pasar juga bakal menanti pidato chairman bank sentral AS The Fed, Jerome Powell pada simposium di Jackson Hole hari ini.

Dengan begitu, investor besok kata Alrich bisa mengincar saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Cipta Niaga Multiguna Tbk (CNMA), dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait