Serangan Israel di Beirut Tewaskan Pejabat Partai Kristen, Ketegangan Lebanon Kian Memanas
Serangan Israel di Beirut tewaskan pejabat partai Kristen dan warga sipil, memperparah konflik Lebanon dan meningkatkan ketegangan politik.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Serangan militer Israel kembali mengguncang Lebanon. Kali ini, serangan yang terjadi di kawasan timur Beirut dilaporkan menewaskan seorang pejabat partai Kristen bersama dua warga sipil pada Minggu (5/4/2026).
Insiden tersebut terjadi di wilayah Ain Saadeh, sebuah kawasan perbukitan yang mayoritas dihuni komunitas Kristen. Serangan menghantam sebuah apartemen dan menimbulkan korban jiwa.
Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan Lebanon dikutip dari Reuters, Senin (6/4/2026), tiga orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, terdiri dari satu pria dan dua perempuan.
Partai Lebanese Forces mengonfirmasi bahwa salah satu korban adalah Pierre Moawad, pejabat lokal partai tersebut, bersama istrinya Flavia.
Anggota parlemen dari Lebanese Forces, Razi El Hage, menilai bahwa situasi ini memperlihatkan dampak serius dari konflik yang terus menyeret Lebanon.
Ia menyebut bahwa negaranya kini harus membayar mahal akibat konflik yang dipicu oleh kelompok bersenjata seperti Hezbollah.
Di sisi lain, militer Israel mengaku telah menargetkan “objek teroris” di wilayah timur Beirut, meskipun tidak merinci sasaran secara spesifik. Pihak militer juga menyatakan tengah meninjau laporan terkait jatuhnya korban sipil.
Sejumlah warga di sekitar lokasi mengaku tidak melihat aktivitas mencurigakan sebelum serangan terjadi. Bahkan, salah satu warga menyebut apartemen tersebut jarang terlihat berpenghuni.
Pada hari yang sama, serangan lain juga terjadi di wilayah selatan Beirut dan bagian selatan Lebanon. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan tersebut, termasuk pasangan suami istri, sementara dua anak mengalami luka-luka.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan bahwa menjaga stabilitas dalam negeri menjadi prioritas utama di tengah situasi yang semakin tidak menentu.
Ia menekankan bahwa perdamaian sipil adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar.
Sejak konflik kembali memanas, otoritas Lebanon mencatat lebih dari 1.460 orang tewas dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi kekerasan yang terus berlanjut.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALMelawan Saat Ditangkap, Residivis Curat di Binjai Ditembak Polisi
hendra·31 menit yang lalu -
NEWS VIDEOKeracunan MBG di Muba, Gubernur Sumsel Minta Perketat Higienitas dan Jamin Pengobatan Gratis Siswa
Fadli Tara·39 menit yang lalu -
NEWSSoroti Jalan Rusak, LMND SUMUT dan EK-LMND SE-SUMUT Akan Geruduk Pemko Binjai: Desak Perbaikan Secepatnya
hendra·1 jam yang lalu -
SUMUTDiangkat jadi Kapolda Sumut, Brigjen Pol Sonny Irawan Siap Pecah Bintang Dua di Tanah Deli
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIKoreksi Berlanjut, Harga Emas Merangkak Turun ke Rp2.574.000 Per Gram
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALNetty Desak Perketat Tata Kelola MBG, Prioritaskan Keamanan Pangan dan Transparansi Anggaran
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELRotasi Jabatan Polri, Brigjen Pol Rony Samtana Diangkat Kapolda Sumsel Gantikan Irjen Pol Sandi Nugroho
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALBahlil Jadi Menko Hilirisasi, Mekeng Tekankan Nilai Tambah Sektor Tambang
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALKapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Mutasi Besar-besaran: 88 Pati-Pamen Dirotasi, 19 Kapolda Berganti
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALDugaan Pungli Terkuak di Rutan Pondok Bambu, DPR Desak Kemenimipas Telusuri Aliran Uang
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan