Rupiah Rebound! Dibuka Menguat ke Rp17.945 per Dolar AS
Rupiah menguat ke Rp17.945 per dolar AS pada pembukaan perdagangan 3 Juli 2026, ditopang pelemahan dolar AS dan meredanya ekspektasi kenaikan suku
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Jumat (3/7/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.945 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat sekitar 0,28% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp17.995 per dolar AS.
Pergerakan positif rupiah terjadi seiring dengan menguatnya mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sentimen tersebut didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global yang memberikan ruang bagi mata uang emerging market untuk menguat.
Pada perdagangan pagi hingga pukul 09.00 WIB, ringgit Malaysia memimpin penguatan mata uang Asia dengan kenaikan 0,39%. Posisi berikutnya ditempati peso Filipina yang menguat 0,24%, disusul baht Thailand naik 0,14%, dolar Singapura menguat 0,11%, serta yuan China yang bertambah 0,06%.
Sementara itu, dolar Hong Kong menguat tipis sebesar 0,008%. Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 0,12%, diikuti yen Jepang yang turun 0,08% dan dolar Taiwan melemah 0,05%.
Data Refinitiv juga mencatat rupiah sempat terapresiasi hingga menyentuh Rp17.940 per dolar AS atau menguat sekitar 0,27% pada awal sesi perdagangan. Kinerja ini menjadi pembalikan arah setelah sehari sebelumnya rupiah ditutup melemah 0,32% di level Rp17.988 per dolar AS.
Di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) tercatat turun 0,05% ke posisi 100,803 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan indeks dolar tersebut memperpanjang tren koreksi setelah sehari sebelumnya merosot lebih dari 0,5%.
Tekanan terhadap dolar AS dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Sepanjang Juni 2026, ekonomi AS hanya menciptakan sekitar 57.000 lapangan kerja, jauh di bawah proyeksi pasar yang mencapai 110.000 pekerjaan. Selain itu, data payroll dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Berkurangnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah pada perdagangan akhir pekan ini.
Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan data ekonomi global serta arah kebijakan bank sentral AS yang masih menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NASIONALAnggota DPR Dorong KAI Tambah Armada KRL Jabodetabek
Herman Saleh Harahap·25 menit yang lalu -
SUMSELTNI dan Pemko Palembang Gelar Gotong Royong Bersihkan Aliran Sungai Sekanak
Herman Saleh Harahap·36 menit yang lalu -
NEWS VIDEODasco Minta Komisi III Dalami Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
Fadli Tara·45 menit yang lalu -
-
NEWSPolri Perkuat Tata Kelola Institusi Lewat Buku Police Governance
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
SUMSELAtasi Kemacetan, Pemko Palembang Bakal Tertibkan Pasar Tradisional
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
PERISTIWAKebakaran di Padangsidimpuan Hanguskan 9 Rumah, 1 Meninggal Dunia
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
EKONOMIIHSG Hari Ini Berpotensi Lanjut Koreksi, Berikut Rekomendasikan 6 Saham Pilihan
hendra·2 jam yang lalu -
KRIMINALAnggota DPRD Sumut Dhody Thahir Terancam 7 Tahun Penjara
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
PAPUA TERKINIDPD Dorong PPDS RSPPU Jadi Jalur Afirmasi Nyata bagi Dokter Papua
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan