Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan AS-Iran

Rupiah diproyeksikan melemah ke Rp18.140 per dolar AS dipengaruhi konflik AS-Iran, harga minyak, The Fed, dan sentimen positif rating Indonesia.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Tekanan eksternal akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah diperkirakan masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data , rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (14/7/2026) justru mampu menguat 18 poin atau sekitar 0,10 persen ke level Rp18.091 per . Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) melemah 0,08 persen ke posisi 101,15.

Direktur PT Traze Andalan Futures, , mengatakan rupiah sempat menguat hingga 25 poin pada perdagangan intraday. Namun, penguatan tersebut berangsur menyusut setelah pelaku pasar kembali mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Ibrahim, sentimen negatif dipicu oleh kebijakan terbaru Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran mulai Selasa waktu setempat. Langkah tersebut menargetkan kapal-kapal yang berkaitan dengan Iran, sementara kapal dagang dari negara netral tetap diperbolehkan melintasi jalur pelayaran internasional.

Trump juga mengumumkan rencana penerapan pungutan sebesar 20 persen terhadap muatan kapal yang melintasi sebagai bagian dari biaya pengamanan kawasan.

Ibrahim menilai kebijakan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan distribusi minyak dunia. Pasalnya, sekitar seperlima konsumsi minyak global dikirim melalui jalur .

Kondisi itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap global, memicu kekhawatiran , serta memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati pernyataan Gubernur Christopher Waller yang menyebut bank sentral AS dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila inflasi konsumen (CPI) kembali menunjukkan peningkatan.

Di sisi domestik, sentimen positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek (outlook) stabil. Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga memperkirakan mampu tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam tiga tahun mendatang.

Menurut Ibrahim, keputusan tersebut mencerminkan keyakinan terhadap fundamental yang tetap solid, ditopang oleh kebijakan makroekonomi yang berhati-hati (prudent), serta tingkat utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat serupa.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen global dan domestik tersebut, diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.090 hingga Rp18.140 per sepanjang perdagangan Rabu (15/7/2026).

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait