Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah Terbatas di Kisaran Rp17.100–Rp17.200, Pasar Masih Wait and See

Rupiah diprediksi melemah terbatas di kisaran Rp17.100–Rp17.200 per dolar AS, dipengaruhi sentimen global dan sikap wait and see investor.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Pergerakan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (17/4/2026) diperkirakan masih akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. Pelaku pasar terlihat berhati-hati di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah cenderung bergerak datar dengan tekanan tipis. Ia memperkirakan mata uang Garuda berada dalam rentang Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pada sesi sebelumnya, Kamis (16/4/2026), rupiah sebenarnya berhasil menguat tipis dan ditutup di level Rp17.128. Penguatan tersebut setara kenaikan 0,05% atau sekitar 8 poin dibandingkan hari sebelumnya.

Kinerja positif rupiah saat itu turut didorong oleh pelemahan indeks dolar AS, serta penguatan sejumlah . Dolar Hong Kong dan rupee India masing-masing menguat 0,05%, sementara peso Filipina naik 0,08% dan baht Thailand menguat 0,23%.

Namun demikian, tidak semua mata uang di kawasan mencatatkan kinerja positif. Yen Jepang tercatat melemah 0,06%, yuan China turun 0,02%, dolar Singapura terkoreksi 0,10%, won Korea Selatan melemah 0,09%, dan ringgit Malaysia turun 0,14%.

Lukman menilai, pelemahan dolar AS belum cukup kuat untuk memberikan dorongan signifikan bagi rupiah. Tekanan masih datang dari berbagai faktor, seperti tingginya harga minyak global, potensi arus keluar modal asing, serta kondisi fundamental domestik yang belum solid.

“Faktor dalam negeri masih cukup dominan memengaruhi , meskipun sentimen global mulai menunjukkan perbaikan,” ujarnya.

Selain itu, minimnya rilis data ekonomi membuat pasar cenderung bergerak tanpa arah yang jelas. Investor memilih untuk menahan posisi sambil menunggu kepastian dari perkembangan global.

Salah satu perhatian utama pelaku pasar saat ini adalah kelanjutan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang akan memasuki tahap lanjutan pada akhir pekan. Ketidakpastian hasil perundingan tersebut turut menahan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah.

Sementara itu, pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah justru terlihat melemah. Berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah dibuka di level Rp17.162 atau turun sekitar 0,14% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini juga terjadi seiring penguatan kembali dolar AS, yang menekan mayoritas . Yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, hingga dolar Taiwan tercatat berada di zona merah. Mata uang Asia Tenggara seperti peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia juga ikut tertekan.

Di sisi lain, hanya beberapa mata uang yang mampu bertahan di zona hijau, seperti won Korea Selatan dan rupee India yang mencatat penguatan tipis.

Dengan kondisi tersebut, dalam jangka pendek diperkirakan masih akan terbatas dan cenderung melemah, seiring pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global dan minimnya sentimen positif.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait