Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp17.650 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia dengan Pelemahan Terdalam

Rupiah melemah ke Rp17.650 per dolar AS akibat penguatan dolar dan tekanan global, menjadi mata uang Asia terlemah hari ini.

Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah tajam hingga menyentuh level Rp17.650 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi posisi terendah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data perdagangan Reuters pada pukul 02.20 GMT, rupiah turun sekitar 1,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.460 per dolar AS. Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada awal pekan.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global. Lonjakan serta kenaikan imbal hasil obligasi global turut memicu kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi dan perlambatan ekonomi.

Selain itu, memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah membuat pelaku pasar cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS, sehingga menekan mayoritas mata uang negara berkembang di Asia.
Tak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan. Won Korea Selatan tercatat turun 0,52 persen ke level 1.505,4 per dolar AS. Dolar Taiwan melemah 0,22 persen, sementara peso Filipina turun 0,25 persen.

Yen Jepang ikut terkoreksi tipis sebesar 0,09 persen ke posisi 158,9 per dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,70 persen, sedangkan yuan China turun sekitar 0,05 persen terhadap dolar AS.

Secara year to date (ytd) sejak awal 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar 5,55 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Pelemahan tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Asia tahun ini.

Adapun rupee India tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam sepanjang 2026 setelah turun 6,35 persen. Posisi berikutnya ditempati peso Filipina yang melemah 4,68 persen dan won Korea Selatan sebesar 4,38 persen.

Di tengah tekanan pasar global, beberapa mata uang Asia masih mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS. Yuan China tercatat menguat sekitar 2,50 persen sepanjang tahun berjalan, sementara ringgit Malaysia naik 2,04 persen.

Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, terutama Federal Reserve, di tengah kekhawatiran meningkatnya inflasi akibat lonjakan harga energi global.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru