Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.066 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Domestik dan Sikap The Fed
Rupiah dibuka melemah ke Rp18.066 per dolar AS. Pasar mencermati risalah FOMC, sentimen S&P Dow Jones, dan prospek ekonomi Indonesia.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (9/7/2026), dengan rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS. Sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Berdasarkan analisis Doo Financial Futures, rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026) berakhir melemah sekitar 0,19 persen ke posisi Rp18.014 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh melemahnya sentimen domestik setelah Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia pada Juni mengalami penurunan yang cukup tajam. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan perlambatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, sentimen negatif juga datang dari pasar modal setelah Indonesia masuk dalam daftar pemantauan (watchlist) S&P Dow Jones Indices terkait kemungkinan perubahan status pasar saham dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market. Meski belum menjadi keputusan final, kabar tersebut dinilai meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset-aset Indonesia.
"Potensi penurunan klasifikasi pasar ekuitas Indonesia oleh S&P Dow Jones turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah," ujar Lukman.
Dari eksternal, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis pada malam hari. Dokumen tersebut dipandang penting untuk membaca arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Apabila Ketua The Fed, Kevin Warsh, kembali menunjukkan sikap hawkish seperti pada pertemuan sebelumnya, maka peluang penguatan dolar AS diperkirakan semakin besar. Kondisi itu berpotensi memberi tekanan lanjutan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, investor domestik juga menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan terbit dalam waktu dekat. Data tersebut akan menjadi indikator penting dalam menilai daya beli masyarakat sekaligus prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua 2026.
Untuk perdagangan jangka pendek, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS seiring pelaku pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS dan perkembangan data ekonomi dalam negeri.
Pada awal perdagangan Kamis pagi, rupiah dibuka melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp18.066 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Di saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat menguat tipis 0,01 persen ke posisi 101,00.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
RELIGIRibuan Warga Palembang Padati Tabligh Akbar dan Maulid Nabi Bersama UAS di Kambang Iwak
Rozie Winata·23 menit yang lalu -
EKONOMIIHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Analis Ungkap Saham yang Layak Dicermati
hendra·29 menit yang lalu -
KRIMINALPolres Padangsidimpuan Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Ganja, Satu Pelaku Diringkus
Rozie Winata·48 menit yang lalu -
SEPAKBOLAJohn Herdman Sebut Skuad Garuda Belum Turun dengan Kekuatan Penuh
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIMichael Saylor Peringatkan Sistem Keuangan AS Harus Dibangun Ulang untuk Era AI
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaim Miliki Kendali Penuh, Trump Tolak Usulan Bersyarat Iran Terkait Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NEWS VIDEOMartin Hutabarat: Perubahan UUD Penting Dipahami untuk Menentukan Arah Bernegara
Fadli Tara·9 jam yang lalu -
-
KRIMINALViral Video Dugaan Bullying Siswi SMPN 12 Pematangsiantar, Polisi Langsung Turun Tangan
hendra·10 jam yang lalu -
BADMINTONDua Ganda Putra Indonesia Tembus Semifinal Asian Games 2026, Leo/Daniel Tantang Pasangan Nomor 1 Dunia
hendra·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan